PENDAWA LIMA
1. PRABU YUDHISTIRA

PRABU YUDHISTIRA menurut cerita pedalangan Jawa adalah raja jin negara Mertani, sebuah Kerajaan Siluman yang dalam penglihatan mata biasa merupakan hutan belantara yang sangat angker. Prabu Yudhistira mempunyai dua saudara kandung masing-masing bernama ;Arya Danduwacana, yang menguasai kesatrian Jodipati dan Arya Dananjaya yang menguasai kesatrian Madukara. Prabu Yudhistira juga mempunyai dua saudara kembar lain ibu, yaitu ; Ditya Sapujagad bertempat tinggal di kesatrian Sawojajar, dan Ditya Sapulebu di kesatrian Baweratalun.Prabu Yudhistira menikah dengan Dewi Rahina, putri Prabu Kumbala, raja jin negara Madukara dengan permaisuri Dewi Sumirat. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh seorang putri bernama Dewi Ratri, yang kemudian menjadi istri Arjuna.Ketika hutan Mertani berhasil ditaklukan keluarga Pandawa berkat daya kesaktian minyak Jayengkaton milik Arjuna pemberian Bagawan Wilwuk/Wilawuk, naga bersayap dari pertapaan Pringcendani. Prabu Yudhistira kemudian menyerahkan seluruh negara beserta istrinya kepada Puntadewa, sulung Pandawa, putra Prabu Pandu dengan Dewi Kunti. Prabu Yudhistira kemudian menjelma atau menyatu dalam tubuh Puntadewa, hingga Puntadewa bergelar Prabu Yudhistira. Prabu Yudhistira darahnya berwarna putih melambangkan kesuciannya.
2. BIMA atau WERKUDARA

Dikenal pula dengan nama; Balawa, Bratasena, Birawa, Dandunwacana, Nagata, Kusumayuda, Kowara, Kusumadilaga, Pandusiwi, Bayusuta, Sena, atau Wijasena. Bima putra kedua Prabu Pandu, raja Negara Astina dengan Dewi Kunti, putri Prabu Basukunti dengan Dewi Dayita dari negara Mandura. Bima mempunyai dua orang saudara kandung bernama: Puntadewa dan Arjuna, serta 2 orang saudara lain ibu, yaitu ; Nakula dan Sadewa. Bima memililki sifat dan perwatakan; gagah berani, teguh, kuat, tabah, patuh dan jujur. Bima memiliki keistimewaan ahli bermain ganda dan memiliki berbagai senjata antara lain; Kuku Pancanaka, Gada Rujakpala, Alugara, Bargawa (kapak besar) dan Bargawasta, sedangkan ajian yang dimiliki adalah ; Aji Bandungbandawasa, Aji Ketuklindu dan Aji Blabakpangantol-antol. Bima juga memiliki pakaian yang melambangkan kebesaran yaitu; Gelung Pudaksategal, Pupuk Jarot Asem, Sumping Surengpati, Kelatbahu Candrakirana, ikat pinggang Nagabanda dan Celana Cinde Udaraga. Sedangkan beberapa anugerah Dewata yang diterimanya antara lain; Kampuh atau kain Poleng Bintuluaji, Gelang Candrakirana, Kalung Nagasasra, Sumping Surengpati dan pupuk Pudak Jarot Asem. Bima tinggal di kadipaten Jodipati, wilayah negara Amarta. Bima mempunyai tiga orang isteri dan 3 orang anak, yaitu :
1. Dewi Nagagini, berputra Arya Anantareja,
2. Dewi Arimbi, berputra Raden Gatotkaca dan
3. Dewi Urangayu, berputra Arya Anantasena.
Akhir riwayat Bima diceritakan, mati sempurna (moksa) bersama ke empat saudaranya setelah akhir perang Bharatayuda.
3. ARJUNA

Adalah putra Prabu Pandudewanata, raja negara Astinapura dengan Dewi Kunti/Dewi Prita putri Prabu Basukunti, raja negara Mandura. Arjuna merupakan anak ke-tiga dari lima bersaudara satu ayah, yang dikenal dengan nama Pandawa. Dua saudara satu ibu adalah Puntadewa dan Bima/Werkudara.
Sedangkan dua saudara lain ibu, putra Pandu dengan Dewi Madrim adalah Nakula dan Sadewa. Arjuna seorang satria yang gemar berkelana, bertapa dan berguru menuntut ilmu. Selain menjadi murid Resi Drona di Padepokan Sukalima, ia juga menjadi murid Resi Padmanaba dari Pertapaan Untarayana. Arjuna pernah menjadi Pandita di Goa Mintaraga, bergelar Bagawan Ciptaning. Arjuna dijadikan jago kadewatan membinasakan Prabu Niwatakawaca, raja raksasa dari negara Manimantaka. Atas jasanya itu, Arjuna dinobatkan sebagai raja di Kahyangan Kaindran bergelar Prabu Karitin dan mendapat anugrah pusaka-pusaka sakti dari para dewa, antara lain ; Gendewa ( dari Bathara Indra ), Panah Ardadadali ( dari Bathara Kuwera ), Panah Cundamanik ( dari Bathara Narada ). Arjuna juga memiliki pusaka-pusaka sakti lainnya, atara lain ; Keris Kiai Kalanadah, Panah Sangkali ( dari Resi Durna ), Panah Candranila, Panah Sirsha, Keris Kiai Sarotama, Keris Kiai Baruna, Keris Pulanggeni ( diberikan pada Abimanyu ), Terompet Dewanata, Cupu berisi minyak Jayengkaton ( pemberian Bagawan Wilawuk dari pertapaan Pringcendani ) dan Kuda Ciptawilaha dengan Cambuk Kiai Pamuk. Sedangkan ajian yang dimiliki Arjuna antara lain: Panglimunan, Tunggengmaya, Sepiangin, Mayabumi, Pengasih dan Asmaragama. Arjuna mempunyai 15 orang istri dan 14 orang anak. Adapun istri dan anak-anaknya adalah :
1. Dewi Sumbadra , berputra Raden Abimanyu.
2. Dewi Larasati , berputra Raden Sumitra dan Bratalaras.
3. Dewi Srikandi
4. Dewi Ulupi/Palupi , berputra Bambang Irawan
5. Dewi Jimambang , berputra Kumaladewa dan Kumalasakti
6. Dewi Ratri , berputra Bambang Wijanarka
7. Dewi Dresanala , berputra Raden Wisanggeni
8. Dewi Wilutama , berputra Bambang Wilugangga
9. Dewi Manuhara , berputra Endang Pregiwa dan Endang Pregiwati
10. Dewi Supraba , berputra Raden Prabakusuma
11. Dewi Antakawulan , berputra Bambang Antakadewa
12. Dewi Maeswara
13. Dewi Retno Kasimpar
14. Dewi Juwitaningrat , berputra Bambang Sumbada
15. Dewi Dyah Sarimaya.
Arjuna juga memiliki pakaian yang melambangkan kebesaran, yaitu ; Kampuh/Kain Limarsawo, Ikat Pinggang Limarkatanggi, Gelung Minangkara, Kalung Candrakanta dan Cincin Mustika Ampal (dahulunya milik Prabu Ekalaya, raja negara Paranggelung).
Arjuna juga banyak memiliki nama dan nama julukan, antara lain ; Parta (pahlawan perang), Janaka (memiliki banyak istri), Pemadi (tampan), Dananjaya, Kumbaljali, Ciptaning Mintaraga (pendeta suci), Pandusiwi, Indratanaya (putra Bathara Indra), Jahnawi (gesit trengginas), Palguna, Danasmara ( perayu ulung ) dan Margana ( suka menolong ).
Arjuna memiliki sifat perwatakan ; Cerdik pandai, pendiam, teliti, sopan-santun, berani dan suka melindungi yang lemah.
Arjunaa memimpin Kadipaten Madukara, dalam wilayah negara Amarta. Setelah perang Bhatarayuda, Arjuna menjadi raja di Negara Banakeling, bekas kerajaan Jayadrata.
Akhir riwayat Arjuna diceritakan, ia muksa ( mati sempurna ) bersama ke-empat saudaranya yang lain.
4. NAKULA

Nang dalam pedalangan Jawa disebut pula dengan nama Pinten (nama tumbuh-tumbuhan yang daunnya dapat dipergunakan sebagai obat) adalah putra ke-empat Prabu Pandudewanata, raja negara Astina dengan permaisuri Dewi Madrim, putri Prabu Mandrapati dengan Dewi Tejawati, dari negara Mandaraka. Nakula lahir kembar bersama adiknya, Sahadewa atau Sadewa (pedalangan Jawa), Nakula juga menpunyai tiga saudara satu ayah, putra Prabu Pandu dengan Dewi Kunti, dari negara Mandura bernama; Puntadewa, Bima/Werkundara dan Arjuna. Nakula adalah titisan Bathara Aswi, Dewa Tabib. Nakula mahir menunggang kuda dan pandai mempergunakan senjata panah dan lembing. Nakula tidak akan dapat lupa tentang segala hal yang diketahui karena ia mepunyai Aji Pranawajati pemberian Ditya Sapujagad, Senapati negara Mretani. Nakula juga mempunyai cupu berisi, “Banyu Panguripan atau Air kehidupan” (tirtamaya) pemberian Bhatara Indra. Nakula mempunyai watak jujur, setia, taat, belas kasih, tahu membalas guna dan dapat menyimpan rahasia. Nakula tinggal di kesatrian Sawojajar, wilayah negara Amarta. Nakula mempunyai dua orang isteri yaitu:
1. Dewi Sayati putri Prabu Kridakirata, raja negara Awuawulangit, dan
memperoleh dua orang putra masing-masing bernama; Bambang
Pramusinta dan Dewi Pramuwati.
2. Dewi Srengganawati, putri Resi Badawanganala, kura-kura raksasa
yang tinggal di sungai/narmada Wailu (menurut Purwacarita,
Badawanangala dikenal sebagai raja negara Gisiksamodra/Ekapratala)
dan memperoleh seorang putri bernama Dewi Sritanjung.
Dari perkawinan itu Nakula mendapat anugrah cupu pusaka berisi air kehidupan bernama Tirtamanik. Setelah selesai perang Bharatyuda, Nakula diangkat menjadi raja negara Mandaraka sesuai amanat Prabu Salya kakak ibunya, Dewi Madrim. Akhir riwayatnya diceritakan, Nakula mati moksa bersama keempat saudaranya.
5. SADEWA atau Sahadewa

Dalam pedalangan Jawa disebut pula dengan nama Tangsen (buah dari tumbuh-tumbuhan yang daunnya dapat dipergunakan dan dipakai untuk obat) adalah putra ke-lima atau bungsu Prabu Pandudewanata, raja negara Astina dengan permaisuri Dewi Madrim, putri Prabu Mandrapati dengan Dewi Tejawati dari negara Mandaraka. Ia lahir kembar bersama kakanya, Nakula. Sadewa juga mempunyai tiga orang saudara satu ayah, putra Prabu Pandu dengan Dewi Kunti, dari negara Mandura, bernama; Puntadewa, Bima/Werkundara dan Arjuna. Sadewa adalah titisan Bathara Aswin, Dewa Tabib. Sadewa sangat mahir dalam ilmu kasidan (Jawa)/seorang mistikus. Mahir menunggang kuda dan mahir menggunakan senjata panah dan lembing. Selain sangat sakti, Sadewa juga memiliki Aji Purnamajati pemberian Ditya Sapulebu, Senapati negara Mretani yang berkhasiat; dapat mengerti dan mengingat dengan jelas pada semua peristiwa. Sadewa mempunyai watak jujur, setia, taat, belas kasih, tahu membalas guna dan dapat menyimpan rahasia. Sadewa tinggal di kesatrian Bawenatalun/Bumiretawu, wilayah negara Amarta. Sadewa menikah dengan Dewi Srengginiwati, adik Dewi Srengganawati (Isteri Nakula), putri Resi Badawanganala, kura-kura raksasa yang tinggal di sungai/narmada Wailu (menurut Purwacarita, Badawanangala dikenal sebagai raja negara Gisiksamodra/Ekapratala). Dari perkawinan tersebut ia memperoleh seorang putra bernama Bambang Widapaksa/ Sidapaksa). Setelah selesai perang Bharatayuda, Sedewa menjadi patih negara Astina mendampingi Prabu Kalimataya/Prabu Yudhistrira. Akhir riwayatnya di ceritakan, Sahadewa mati moksa bersama ke empat saudaranya.















106 tanggapan kepada “PENDAWA LIMA”
tomyarjunanto
Maret 28th, 2009 pada 09:59
Mas arti dari ageman para pandawa menika napa ? kadosta pupuk jarot asem, gelang candrakirana, amargi nate kula kedah mundut pupus godhong asem ingkang sampun kadumukaken wonten bathuke lare alit kanthi nyuwun guna kuwasane pupuk jarot asem kagem srana tamba.
kalih wara2 sakniki blog kula sampun salin jeneng Rujakbeling Kolakrawe, saking kaprihatosan marang kahanan bangsa niki kok wonten wisik kados menika. nggih mangga katuran pinarak paring donga pangestu ganti jeneng menika
sabdalangit
Maret 28th, 2009 pada 10:31
Mas Tomy Yth
Memang ada arti maknawi masing-masing ageman. Namun karena penjabaran sangat panjang belum sempat untuk menulis. Mudah-mudahan ada waktu untuk menulis.
Semoga padepokan mas Tommy dapat mewakili kejujuran generasi muda bangsa, dan dapat menggugah kesadaran generasi bangsa untuk menjadi lebih baik lagi. Kula segera sowan Mas.
Rahayu
Ngabehi
Maret 28th, 2009 pada 15:40
idola saya yang bontot itu KI, saya suka tertawa terpingkal2 kalu ada adegan Resi Durna dan R. Sadewa sedang berdebat, karena ujung ujungnya nanti werkudara marah ngebela sang Guru, pasti deh nanti Bima dikerjain oleh Sadewa berikut anak2 bima sendiri yaitu Gatotkaca cs, apalgi dalangnya Ki Hadi Sugito dari kulon progo, suka nonton beliau pas mentas tidak Ki?Wayang bagi saya mendatangkan hiburan tersendiri, walupun sebetulnya wayang itu ya gegambaran kita kita ini.
sabdalangit
Maret 28th, 2009 pada 16:37
Wah bener Ki, saya dulu juga ngefans sama Ki Hadi Sugito kebetulan ada rmh du dusun dkt nya Ki Dalang. R Sadewa memang jalma tan kena kinira, bahkan Raden Sadewa lah yg meruwat Bethara Kala. Dapat di bayangkan, kalau ruwatan itu kan minta dispensasi kepada Bethara Kala, sementara Bethara Kala sendiri harus diruwat oleh Raden Sadewa karena kelahirannya Senin Pon.
sapto
Maret 28th, 2009 pada 17:57
Nyuwun pirso Mas Sabdalangit
Kalau menghubungkan karakter seseorang dengan tokoh pewayangan, cara analisanya seperti apa?
Apa juga pakai menghitung neptu juga atau cukup melihat perwatakan seseorang?
Maturnuwun
sabdalangit
Maret 28th, 2009 pada 20:41
Nyuwun pangapunten Mas Sapto, kagem melihat “wayangane” seseorang ada ilmu khusus dan saya tdk menguasai, kebetulan yg bisa istri saya Mas. Namun bukan dengan hitungan neptu. Krn jika sudah ngempakke ilmu tsb akan muncul wayangan seseorang seperti membayangi di belakang ybs. Dan karakter org tsb akan persis seperti karakter sosok wayang yg muncul tsb.
Salam Sejati
sapto
Maret 28th, 2009 pada 21:19
Matur nuwun Mas Sabda
‘wayangane’ seseorang itu sebenarnya siapa Mas?
Apa khodam, atau manifestasi sedulur papat, atau guru sejati atau yg lain?
nyuwun pangapunten Mas, pertanyaan saking yg blm gaduk kuping.
sabdalangit
Maret 29th, 2009 pada 00:01
Itulah Mas, saya sendiri juga gumun, heran mengapa kalau ada darah Jawa-Sunda walau sedikit pasti wayangane bisa muncul. Tapi yang tdk ada darah Jawa kok nggak ada. Sampai detik ini saya belum tahu persisnya rahasia wayangan tadi, apakah sejatinya. Karena bukan sedulur papat maupun guru sejati. Untuk sementara saya hanya bisa berpendapat jika wayangan itu sebenarnya kombinasi unsur aura/prana yang mewakili karakter pribadi seseorang, dan bisa mewujud wayang karena ada sejenis ilmu yang digunakan untuk mewujudkan karakter pribadi dalam bentuk gambar wayang yg sesuai karakternya. Ilmu tsb hasil karya para leluhur zaman dulu. Yg menakjubkan adalah betapa kreatif dan canggihnya leluhur zaman dulu dalam membuat ilmu/alat tsb.
Salam sejati
WangMuba
Maret 29th, 2009 pada 02:06
Nice. Thanks ya tuk infonya
someone
Maret 29th, 2009 pada 03:24
ya ini mungkin otak-atik gatuk aja yah, bisa bener bisa enggak karena nanti kesannya terlalu mengunggulkan jawa/sunda.
Saya pernah buka-buka di internet terus ngebaca arti kata jawa.
Kalau dilihat kata jawa itu hampir mirip dengan sebutan untuk bangsa yahudi jewish dimana menyebut Tuhan dengan Jehova.
Ternyata antara jawa dan jewish memiliki arti rada-rada mirip yaitu berarti “manusia dewa”.
Nah ini untuk test mas sabdalangit kalo ada temen yang kebetulan berdarah yahudi ada trawangan wayangnya gak? Sori kalau salah.
sabdalangit
Maret 29th, 2009 pada 03:44
hehe..untuk mencari teman seorang yahudis di Indonesia susah Mas Someone. Btw kalau suatu saat punya kenalan yahudis boleh juga usulan anda dipraktekan. Yaah, namanya saja iseng-iseng research…
someone
Maret 29th, 2009 pada 04:00
loeh isih melekan toh kang…. btw email yang panjenengan suwun sampun dikirim wonten gmail…. sumonggo dipun persani…..
suwun……
sabdalangit
Maret 29th, 2009 pada 04:29
Masih melek juga Mas Someone, ini sy baru baca artikel panjenengan.., namun belum selesai. Keburu subuh, ritme alam sdh memanggil, dan kembali nyari rumput dulu buat ngasih makan kambing…
Habis ini saya langsung ke sawah dulu ya mas…
Ants_Selatan
Maret 29th, 2009 pada 11:49
Kalau nyari yahudi susah, monggo dicoba trawang bule yang senang dengan budaya jawa terus dibandingkan dengan orang jawa yang suka dengan budaya arab, cina atau barat. Apakah ada perbedaan ? Hal ini ada kaitannya dengan reinkarnasi.
Sebagai cth ada sebuah keluarga jawa memiliki 4 anak. Dari keempat tersebut yang sebelumnya dari jawa ada 2 orang sedang yang lainnya 1 dulunya seorang Sunda, dan satu lagi dari Dayak Kalimantan. Yang Kalimantan ini untuk diajak bicara Jawa alus sangat susah, yang sunda tidak begitu suka dengan makan manis. Yang Jawa pun dibagi 2 satu Majapahit dan satu lagi jaman Mataram. Yang sunda kulitnya putih, kalimantan coklat, jawa majapahit coklat dan jawa mataram kuning.
Seorang teman , melalui mimpi kalau dia hidup di tahun 1393 dan tahu cara meninggalnya karena melarikan istri orang, dia ini orangnya pendiam dibalik diamnya itu tersimpan watak atau karakter yang berbeda dengan tampilan luarnya.
Dan reinkarnasi ini tidak sekali bahkan bisa berkali-kali, bukan tidak mungkin dulunya saya atau Mas Sabdo pernah hidup di belahan bumi yang lain dengan watak dan karakter yang berbeda pula.
Faktor alam pun ikut dalam membentuk karakter dari manusia. Bagaimana watak yang lahir pagi dengan yang lahir malam ?
Wayang mungkin merupakan sanepa buat kita atau model atas suatu masalah. Di wayang ada raja buta matanya, di Indonesia ada presiden yang tdk bisa melihat.
Lalu bagaimana dengan kita. Apakah kita sebagai Bima, Arjuna, Yudistira atau gabungan dari semua Pandawa Lima. Kemudian siapakah yang jadi Resi Durna ? Mungkin mas Ngabehi bisa ngasih info Durna itu seperti apa sih ?
Mohon maaf kalau ada salah.
Matur Nuwun kagem Mas Sabdo yang sudah ngasih tempat.
Salam Sejahtera
demoffy
Maret 29th, 2009 pada 17:22
wah pecinta budaya jawa nie….
ya kita harus mencintai budaya ….
lestarikan budaya indonesia…
ke2
Maret 30th, 2009 pada 16:27
wah semakin menarik saja bila sudah menyangkut wayang …..
mas Sabda, saya tertarik untuk bisa dilihat wayangane …. bisakah ???
ohya saya lahir tanggal 29 Juli 1959 … mohon tanya neptune dan sifat2nya … karena saya coba cari dikolom neptu tapi gak bisa caranya (dasar OOT kali ya)
terima kasih atas bantuan mas Sabda.
arief
Juni 27th, 2009 pada 02:42
Sebenarnyaaa kurawa dan pandhawa saudara yang tidak ada rencana untuk berperang ,,mereka saudara Satu Ayah beda IBU…,, banyak faktor yang akhirnya mereka Perang Saudara….. salah satunya sifat Licik dan Serakah ,adu domba oleh adipati Sengkuni inggih meniko jejuluk Paman Sengkunii sing Bangsattt
arief
Juni 27th, 2009 pada 02:43
Jangann takut dan maluu mengenall budaya Wayang……
firindadus@yahoo.com
Juli 4th, 2009 pada 15:22
firindadus firin wedus
Dalang Mudal Piwulang
Juli 30th, 2009 pada 13:21
Aku nate maca buku tentang Pandawa Lima:
Bukankah PANDAWA LIMA itu siji ibu ning bapaknya (Bapak biologisnya) banyak ????? Lha si Pandu iku hanya bapak “de jure”
(Kasihan lho si Pandu, bojone dienggo bancakan dewa-dewa)
Puntadewa bapakne jenenge Dewa Dharma
Bima Wrekudara bapakne Dewa Bayu
Arjuna (sing clutak doyan kawin) anake Dewa Indra
Nakula lan Sadewa anake Dewa Madrim
Yen ngono Dewi Kunthi ki wanita sing kepriben ya……. belum Karna (Adipati ing Awangga) iku rak hasil selingkuhan juga sama Dewa Surya (ki Dewa juga dewa clutak).
Koq kanggoku rak cocok yen kanggo conto koco pangilo,
Dospundi pendapat sampeyan …………….
SABDå
Juli 30th, 2009 pada 13:28
@Dalang Mudal Yth
Itu semua adalah cerita “kulit” masih harus dikupas kulitnya barulah ketemu isinya. Ibarat buah duren, kuitnya jelek dan berduri, namun isinya sungguh lezat (bagi yg suka). Cerita Pandawa Lima merupakan kiasan akan pergolakan antara hawa nafsu, yang berpintu pada kelima indera manusia. Dewa diartikan sebagai sukma sejati. Indera yang baik itu yg mau berkiblat kepada dewa (sukma jati) alias “nuruti kareping rahsa”. Coba panjenengan buka thread saya berikut : Pusaka-kalimasadha-chundamani
Nyuwun koreksinipun bilih wonten ingkang katilapan.
Rahayu
sang alit
Agustus 1st, 2009 pada 07:37
Saya nggak suka duren dan nggak suka dewa clutak
arjuna
Oktober 21st, 2009 pada 20:16
saya masih smu, tapi saya tertarik sama cerita wayang. ada yg bisa sebutkan masing2 karakter dari pandawa lima?
oen
Desember 21st, 2009 pada 07:39
gambarnya nakulo kq sama kayak sadewa bang ??
SABDå
Desember 21st, 2009 pada 14:23
Ya, karena antara NAKULO dan SADEWA merupakan saudara kembar.
salam
hera ipeh
Januari 26th, 2010 pada 19:44
ii kapan ya acara wayang tayang lg d tv??? akk suka bela-belain gadang tapi sekarang susah banget ada yang nyiarin wayang….
SABDå
Januari 27th, 2010 pada 00:29
Mbak Hera Yth
Beberapa hari lalu stasiun TV TPI menayangkan pagelaran wayang kulit Ki Manteb Sudarsono berkolaborasi dgn wayang golek Kang Asep Sunarya. Para dalang memlesetkan nama mereka dengan Pak Manteb Sunarya, atau Asep Sudarsana. lakon yg terpilih adalah SEMAR GUGAT. Pagelaran sangat seru, masing2 mampu menampilkan kolaborasi unik, indah, dan menakjubkan. Bahkan dalam adegan perang melawan kekuatan jahat, wayang kulit dan golek daro tokoh yg baik2 bekerjasama mengalahkan wayang tokoh jahat. Tampil dengan kehebatan masing-masing, menjadi keindahan karya seni yg luar biasa justru karena KEBERSAMAAN DALAM PERBEDAAN. Nah, terlepas dari semua kemeriahan itu, ada satu nilai mistis yakni lakon/judul yg ditampilkan tentu saja tidak asal-asalan, tetapi harus puasa dulu utk maneges mencari lakon yg tepat. Ternyata yg keluar adalah Semar Gugat. Kyai semar, simbol manusia setengah dewa atau sabdapalon dan nayagenggong, menggugat para kesatria kerajaan astina, yg dipimpin oleh Prabu Duryudhana yg sedang lupa diri, tdk eling dan waspada sehingga muncul angakar murka. Semar sebagai juga simbol “wong cilik” tokoh yg mewakili dan melindungi nasib rakyat, sekaligus pamomong para kesatria Pandawa. Hal ini mirip dengan lakon para tokoh dan pejabat pengatur negara Indonesia saat ini, akhirnya muncul sikap protes “rakyat menggugat”.
Dan saat inilah memang saat di mana janji Sabdapalon dan Noyogenggong yakni setelah 500 tahun akan kembali “memberi pelajaran” kepada anak turun dan generasi penerus bangsa akan mana kebaikan dan mana keburukan supaya kembali kepada jatidiri bangsa, menjadi bangsa yg yg berbudi pekerti luhur.
salam asih asuh asah
adjisaka
Februari 13th, 2010 pada 09:10
Dengan segala hormat dan kerendahan hati yang paling dalam, saya memohon tolong cerita tentang istri – istri dari pandawa lima untuk dilengakapi asal usulnya dari mana?
karena saya sangat membutuhkannya,boleh lewat email saya.
Elvira Ika
Maret 13th, 2010 pada 19:58
Malam mba/mas/bu/pak
Perkenalkan, nama saya Elvira
Saya sangat tertarik dengan budaya wayang
Saya beserta teman-teman saya sedang melakukan riset mengenai pendawa lima untuk membuat sebuah buku budaya.
Jika boleh, dapatkah Anda mengirimkan ke email saya mengenai ciri2 pendaw lima?
terima kasih
SABDå
Maret 14th, 2010 pada 00:08
Mbak Elvira Yth
Silahkan dibuka posting saya PUSAKA KALIMASADA DAN CUNDAMANI.
Di situ saya menjabarkan makna kias dan hakekat dari PENDAWALIMA.
Salam sejahtera
Soedawoe
Maret 20th, 2010 pada 23:16
Ki sab da & pecinta wayang t’hormat kulanuwun nunut ngeyub. .
Saya setuju wayang adlh simbolis dri manusia & pandawa simbolis dri manusia unggul yg ada pd dri kita. .
1. Nakula dan sadewa. Ini adlh gmbrn jasat kta terbelah kiri dan knan maka d ktakanlah kembr sbgai wadah watak2 dr 3 sodranya. Si kembr ini d lhirkan dri ibu yg b’beda yaitu dewi madrim yg artinya bumi pertiwi atau jasat kita sari patih tanah. .
2. Punta dewa sebgai pembreb pendawa menggambrkan akal fikir kita yg b’rda d kepala pengdali sodra2nya dia yg mempunyai ajimat jamus kali masada (kalimah syahadat)yg slalu kta ucapkan. Dia tdk mau perang, seorng pemikir yg baik, apa yg dminta dri dia akan dia brikan bhkn sampai istrinya pun. .
3. Bima / werkudara
ini gmbran piandel kta cektan, jujur, taat di gmbrkan tdk bisa duduk dia stu2nya wayng yg bertemu dewanya/gustinya itu lah watak kejujuran yg ada d dlm dri kta. .
4. Arjuna
laki2 berparas cntik lemah gemulai bersejatakn busur dan panah penebr cinta dmana2 seorang perayu yg ulung ini adlh gmbran hti kita. .
Sekelumit gambrn dri saya, mhon maaf kalau ada salah dan ke ikhlafan. .
Soerodaoe
SABDå
Maret 22nd, 2010 pada 00:29
sampun kersa nambah wacana dan khasanah filsafat pewayangan.
salam karaharjan
tomy
Agustus 3rd, 2010 pada 14:39
kawula tengga wedharanipun babagan agemanipun wayang Mas
Imam suyanto
November 4th, 2010 pada 17:31
Assalamu’alaikum wr.wb….
Pak/ Mas Sabdalangit,
Nuwun sewu sa’derengipun, tepang aken nami kaulo Imam Suyanto…kolo saking Blitar, Jawi Wetan…
Pak/ Mas Sabdalangit engkang Kinurmatan, Kanti andapipun penggalih Dalem bade nyuwun Pitulungan dateng Panjenengan, Nyuwun Tingal aken “PEWAYANGAN” kaulo.
Dalem Lahir: 31 Januari 1979, dinten: Selasa kliwon.
Menawi saget Dalem nyuwun jawabanipun dipun kentun dateng E_mail kaulo.
Sampun lan sakderengipun Kaulo aturaken Matur Sembah Nuwun
Mugi-mugi Gusti Engkang Maha Agung enkang Paring Piwales sedoyo kesaenan pnjenengan…. Amin
Salam Karaharjan
Imam suyanto
November 4th, 2010 pada 17:41
Tokoh Pewayangan engkang Dados Idola Kaulo:
1. Prabu Kresna
2. Raden Werkudara
3. Hanoman
4. Rden Gatot Kaca
5. Semar
7. Petruk
Salam
fadly
November 9th, 2010 pada 12:18
salam ukhwah..saya ingin bantuan pemahaman makna ‘Jambolitar’ dan ‘Darawati’…. dalam PENDAWA LIMA.
Budak angon
November 22nd, 2010 pada 19:45
dulu sy suka nonton wayang, Ki sabdo aku mau tanya? Klau nonton wayang enak di depan kelir? Apa dibelakang kelir?
Sy juga suka sosok wayang Bima, jk dia dtg, pasti mundur? Spt gerakan nafas kt yg metu mlebu?
SABDå
November 23rd, 2010 pada 01:42
Kang Budak Angon yth
Wayang kulit? Tentu saja lbh indah dan bermakna dari balik layar tampak siluet wayang yg indah skali. Itulah makna hakekat yg universal, semua pertunjukan wayang sama warnanya, hitam dan putih di layar sbg simbol dimensi metafisik/ruh. Tp org jaman skrg nonton wayang sdh trbalik, lbh kesengsem gebyarnya “kulit luar” yg warna warni, apalagi kalau sindennya cantik2, pastilah nontonnya dari belakang ki dalang. Itulah panggung kehidupan yg nyata trcermin dlm pertunjukan wayang kulit.
Salam sejati
Budak angon
November 23rd, 2010 pada 11:40
Ki sabda trims. Tsades kalau nonton wayang selalu deket sinden? Mlh tidur? Tp pinter cerita. Lain dgn putrinya bulurah nontonnya dibalik layar sambil menikmati kue2 di meja. Kalau aku malah main dadu dibelakang pertunjukan he he … emang aku bandel
Wedus Gembel
November 23rd, 2010 pada 15:02
Ngapunten kidalang Sabdolangit, nanya lagi? he he …. biar kita kita pd tahu?
Apa makna kelir (layar)?
Apa makna gedebog pisang (batang pisang) yg digunakan untuk nancep wayang?
Apa makna lampu?
Apa makna wayang gunungan?
Kenapa buta cakil selalu mati oleh senjatanya sendiri?
Matur nuwun ki sabdolangit.
SABDå
November 23rd, 2010 pada 18:33
Kang WG yth
Saestu, org yg memiliki pertanyaan diatas pastinya sdh tau apa jawabnya. Sy sekedar melengkapi saja.
Raga/jasad tak ubahnya gedebok pisang, yg meragai sang wayang sebagai sukma sejati. Keduanya tak boleh trpisahkan supaya bisa berkiprah di jagad pakeliran sbg panggung “sandiwara” dunia semesta. Takala manusia mengalami kematian nurani, tak ubahnya pagelaran wayang tanpa lampu blencong. Sasar susur amung nggugu ujare penonton. Sebab itu nurani mjd cahyo sejati yg akan menerangi pagelaran hidup manusia, tak ubahnya sang surya blencong yg berperan mjd sukma kawekas.
Dalang bodoh akan merasa dirinyalah “sang utusan”. Padahal pak dalang hanyalah diutus oleh org yg menanggap wayang.
Maka sang dalang sesungguhnya hanyalah siapa ?
Salam asah asih asuh
Budak Angon
November 23rd, 2010 pada 20:33
plok plok (tepuk tangan) ….. hebat kang Sabdolangit terima kasih atas penerangannya?
alangkah indahnya budaya lokal nusantara
Cerita Wayang ini sudah ada sejak jaman majapahit, karena bagi raja majapahit dengan menanggap wayang adalah cara efektif untuk mengumpulkan warga negaranya untuk mendengarkan petuah-petuah dari rajanya dan juga para pendeta/ulama pada jamannya.
semoga TS dan kang Ades makin sayang kpd budaya lokal nusantara, betapa tauhidnya para orang tua/leluhur kita pada jaman dulu. Jadi para nabi-nabi hanyalah penerusnya nabi Ibrahim as dan nb ibrahim di nusantara ini bernama brahma. Jadi janganlah meremahkan budaya kita yg adiluhung ini. Marilah kita sambut ajakan kang sabdolangit yg telah berbuat sekuatnya untuk membangunkan kita2 ini yg tertidur lelap …. ketika bangun dari tidur marilah kita benahi peradaban baru ……… amiin
TS ayo kita panjatkan puji dan bersyukur kehadirat-Nya, agama2 apapun telah bisa bersinergi dgn budaya luhur nusantara dalam istilah kitab musarar jayabaya dari mekkah (menerima berkah) yg pertama, tanah jawi sawiji”,
Menjelang akhir jaman, marilah kita saling eling dan waspada.
Sehebat2nya mengumbar hawa nafsu (buta cakil) pasti akan mati oleh tikaman nafsu dirinya sendiri. Maka agar kita selamat maka hendaklah kita mampu mengendalikan nafsu2 (lamawah, amarah, sufiah dan mutmainah) yang ada di diri kita.
Sy mohon maaf kpd kang sabdolangit dan haturkan terima kasih.
Salam rahayu, semoga kita selama pd jaman penyaringan ini
Budak angon
November 24th, 2010 pada 00:03
Ki sabda benar, dalang (hyang wisesa) “bekerja” krn ada hamba-Nya yg nanggap (doa/meminta) agar bumi ini makmur, lakone “semarang tembayat”, yg punya gawe letakny sakulone tempura, ringnya 3, perak lan gng perahu. Selamat nonton wayang
Budak angon
November 24th, 2010 pada 00:13
Y-juj m-juj sdh turun?! perang sodara, wabah kolera eh korea merambah-rambah, gending pengantin ditabuh gng bromo, krakatau, gng bwh laut, patahan jkt … Nuklir …
Budak Angon
November 26th, 2010 pada 20:10
@ TS
tp tidak untuk anaknya bulurah yg tidak punya ijasah.
Syari’at islam membimbing muslim meningkatkan kualitas kediri-annya berkat tarekat yg transformatif, shg tercapai hakikat, tingkatan akhirnya yakni “ma’rifat, yg illuminatif SUDAH MASUK KE WILAYAH RUKUN IHSAN.
yg demikian itu dlm tradisi Jawa dikenal 4 tingkatan sembah, yakni : sembah ragam, sembah kalbu, sembah jiwa dan sembah rasa (Mangkunegara IV, Serat Wedha Tama). Jadi dalam tradisi Jawa SEMBAH JIWA itulah TASAWUF.
Kt pernah mendapat pencerahan Ki Sabdolangit mengenai makna LATAR / LAYAR dalam PERTUNJUKAN WAYANG, Latar belakang dan latar depan.
KELIR yakni layar tempat dimainkannya wayang.
Bagi penonton PEMULA spt TS, yg melihat sesuatu dari sudut luar/kulit (kelahiran) maka yg dilihat adalah wayangnya/wayang kulit (fisik), kalau istilah kang Sabdo nontone dibelakangi dalang & deket sinden yg cantik he he …… sementera KELIR lambang “layar kesadaran” yg menjadi latar belakang.
Sebaliknya bagi penonton/PEMIRSA LANJUT yg lebih mementingkan TUNTUNAN di balik tontonan, Kelir(nya) ada pd latar depan, sedangkan wayang sbg bayang2 kehidupan, berikut dalang serta waranggana lengkap dgn kanca prada-angga adalah latar belakang.
Sultan Agung pernah membuat Serat Sastra Gendhing 16 term mono-dualis, yakni : Dzat=sifat, rasa=pangrasa, cipta=ripta, yg disembah=yg menyembah, kodrat=irodat, kadim=baru, sastra=gendhing, yg bercermin=bayangannya, suara=gema, lautan=ikan, pradangga=gendhing, papan tulis=tulisan, manikmaya=sanghyang guru, dhalang=wayang, busur=anak panah, wisnu=kresna.
sastra gendhing merupakan sintesis kesaksian visual (sastra) dan auditif (ghending) yg terpadu dalam ibadah shalat.
PRAMILA GENDHING YG BUBRAH, GUGUR SEMBAHE MRING WIDHI,
BATAL WISESANING SALAT, TANPA GAWE ULAH GENDHING,
DENE NGRAN TEMBANG GENDHING, TUKIRENG SWARA LINUHUNG
AMUJI ASMANING DZAT, SWARA SAKING OSIK WADI, OSIK MULYA WENTARING CIPTA SURASA (sastra gending 1:12).
Formasi shalat adalah formasi standard, pamoring kawula gusti, sedemikian rupa shg lurus & rapatnya shaf membentuk disiplin ilmiah, sementara bagi imam ketepatan urutan gerak dan lafal harus terjaga.
Menurut tradisi Jawa, efektifitas ibadah itu membekas pd suasana NENG-NING-NUNG-NANG: Enenging solah bawa, eninging ati manungkupuja, Dumunung Kasunyatan, Wenanging Kasunyatan, Wenanging Jumenengan.
Untuk mencapai tingkat JUMENENG/berdiri di bawah lindungan nama-Nya, orang harus lulus akreditasi “terdaftar”, “diakui”, “disamakan”, ADEG-ADEG (jejer-jajar-jujur) baik pada Ng-adeg Jejeg ataupun bahkan M-adeg Pribadi.
Tasawuf dlm tradisi Jawa tdk lain ialah olah hati, Ng-ati-ati, bahkan M-ati (dalam “hidup/urip”, banyak yg tidak tahu makna hidup/urip?) yg menurut rumus PAMETHENGING GANDEWA, PAMENTHENGING CIPTA, sehingga PUSTAKA LENGGAH MUSTAKA yakni memakai ikat kepala Udheng-Mudheng.
Itulah sebabnya, sosok RATU ADIL yg ditunggu-tunggu digambar miring (gambar wayang) sbg RAJA TANPA MAHKOTA, melainkan memakai UDHENG yg DI DALAMNYA TERSIMPAN LAYANG KALIMASADA (kalimat syahadat), SAMAK MUSTIKA JAMUS.
(hampir mirip dgn ramalah Nostradamus, orangnya pakai udheng-udheng warna biru? bahkan budaya jawa sudah menggambarkan lebih dahuluan ttg Ratu Adil? )
Ketika seseorang menthang gandhewa yakni melakukan reduksi fenomenologis, menggapai pangkal tolak SANGKAN PARANING DUMADI, hulu eksistensialnya pastilah penafian diri : SEJATOSIPUN BOTEN WONTEN PUNAPA-PUNAPA, KAJAWI KANG KAJAWI, INGKANG JUMENENG.
Tasawuf dalam tradisi Jawa mengenal tingkatan pernyataan ANANE, WAHANANE, dan KAHANANE (wisikan ananing dzat, wedaran wahananing dzat dan gelaran kahananing dzat).
Sejarah mencatat, masa 12 abad pengaruh ajaran Hindu-Budha, 3 abad Islam, kemudian diterjang masa penjajahan 3,5 abad.
Salah satu bangunan yg penuh makna kearifan Hindu adalah Candi Prambanan
kearifan Budha candi Borobudur, Kraton Jawa umumnya, Ngayogyakarta khususnya mengandung ajaran Krama Inggil “SETUBUH ALAMI, SENYAWA LLAHI”.
Kesufian tradisi Jawa.
BADAN JABA WUJUD KITA IKI, BADAN JERO MUNGGWING JRONE KACA
ANANGING DUDU PANGILON, YO IKU WUJUD KITA PRIBADI
TINITAH JRO PANYIPTA, LUWIH GEDE HARKAHIRE,
LAMUN JANMA WUS GAMBUH ING BADAN BATIN, SASAT SARIRA BATHARA
(serat Dewa Ruci)
Kalau memperhatikan khazanah budaya jawa, akan segera ingat akan istilah AWAS-ELING …. konsekwensi lanjut dari ENENG-ENING. ini keahlian olah panah (nafas). Gambaran setepatnya ialah tarikan puncak tali busur, dalam rangka oleh panah “MANAH” (Ng-ati-ati/M-ati), sementara AWAS-ELING itu lepasnya JEMPARING (BYAR).
Gambaran tsb di atas, akan lebih jelas jika ingat akan pedoman para muhsin, bahwa kalau SESEORANG HAMBA MENDEKAT KPD TUHAN SEHASTA, MAKA TUHAN MENYONGSONG HAMBA-NYA TADI SEDEPA.
akibat pertemuan dua gaya Kawula-Gusti sedemikian rupa shg ke-Aku-an seorang hamba tdk lagi pengakuan sepihak, melainkan benar2 ke-aku-an yg diakui-Nya sbg Abdul-Lah, itulah momentum muthmainnah, terdaftar di sisi-Nya, diakui dan disamakan.
Manusia itu makan, minum, bertenaga dan bernafas karena manusia punya unsur tanah, air, api dan udara. Sementara tanah, air, api dan udara TIDAK PUNYA UNSUR MANUSIA.
Maka yg MAKRO itu manusia dgn RUH-NYA, yg MIKRO juga dgn tubuh jasmaninya. Dengan demikian struktur pelengkapnya adalah mikrokosmologis, kosmologis, makrokosmologis.
Kesatuan mistis tercapai ketika BIMA masuk ke jati dirinya, yakni DEWA RUCI atau BIMA SUCI dan menerima wejangan: BADAN NJABA (tubuh luar) yakni A=Ades, B=Boys, T=TS, BADAN JERO (tubuh dalam) yakni kesaya-an, kesahayaan dalam KACA MAWA RASA, yakni ikatan bhatin antara TUAN RUMAH dgn DALANG, lakon yg harus dibabar.
Maka hakekat BIMA bertemu dgn WUJUDNYA SENDIRI namun yg sangat KECIL, makin terheran-heranlah ia, ketika BIMA diberi tahu ttg CIKAL BAKAL keberadaannya, bahkan SANGKAN PARANING DUMADI, Awal-Akhir, Lahir-Bhatin. BIMA pun ………… mengalami KEBAHAGIAAN PARIPURNA, SETUBUH-ALAMI, SEJIWA-LLAHI.
puterinya bu lurah
November 27th, 2010 pada 04:20
hehehe….kenyataan memang SANAD SEJATI LEBIH HEBAT DARI IJAZAH SANAD hahaha…dan SILSILAH SEJATI lebih hebat dari IJAZAS SILSILAH…
kan sudah dibilang SP tuh manusia yang lain daripada yang lain…ah kan sudah dibilang di blog sebelah…..kalau orang sufi arab doanya minta surga murni…buat dirinya sendiri…
sedang SP doanya lain…dia minta batu surga yang diturunkan buat manusia di bumi….walau batu surga buat dia di surga akhirat nanti berkurang kesempurnaannya tapi dia ikhlas demi kepentingan semua manusia…kisah ini direkam juga dalam agama shinto dan dilukis dalam sebuah taman di Kyoto Jepang…tuh kan sampai sejauh itu bangsa Jepang mengenal anak keturunannya di Indonesia hahaha….
ini bedanya SANAD SEJATI DAN IJAZAH SANAD….dan bedanya SILSILAH SEJATI dan IJAZAH SILSILAH…..hehehe…
tuh kan siapa yang bernyanyi di luar hehe…
bukan burung gagak loh….
hahaha…..saya sendiri tetap merekomendasikan umat Islam yang normal untuk berpegang kepada sanad karena lebih baik….
perkecualian buat SP..dia kan ga normal….alias GILA…hahaha….
karena memang jumlah matahari itu ada berapa sih..satu atau dua…atau satu juga hahaha…
sopokui
April 29th, 2011 pada 16:57
bangsa2 lain juga berjasa ke indonesia(lihat sejarah),…belanda:..tanpa dijajah belanda tidak ada indonesia sebesar ini,….jepang:spt dikatan diatas…..amerika:…tanpa bom atom,…jepang tidak menyerah,..dan indonesia tidak merdeka….Jerman:..tanpa jerman memerangi eropa dan amerika,…belanda masih di indonesia,..dan jepang Tidak berani perang sendiri,….
jadi intinya,.sejelek2nya suatu negara/bangsa,….ditulis dalam sejarah…pasti ada gunanya,..utk negara lain….
belajarlah sejarah,…akan terlihat…apa yg memungkinkan indonesia lahir,…
Budak angon
November 27th, 2010 pada 08:36
Dasar penyanyi he he … nih tak ksh tahu, jumlah matahari itu milyar2, sebanyak jmlh manusia … Setiap matahari dikelilingi planet2. Tp semua matahari mengelilingi titik hitam (sbg poros-Nya), geraka semua matahari2 spt tawaf kulilingi ka’bah.
Aku gak tahu sinto? salah kali dia?
Budak angon
November 27th, 2010 pada 09:13
Jadi ya pantas lah jk sinar matahari, makin redup…, keluar bisul2? Karena dia semakin gak kenal dgn yg memberi sinar? Begitu juga manusia.
Sana nyanyi aja di jepang, kalau nyanyi di budaya lokal adiluhung gak laku krn suluknya sumbang he he …
puterinya bu lurah
November 27th, 2010 pada 13:27
tahu gak kenapa dulu bangsa Jepang menyebut saudara muda kepada bangsa Indonesia,,,dan mereka mengakui saudara tua buat bangsa Indonesia…
hahahaha….pengaruh bangsa Jepang buat kemerdekaan Indonesia jelas lah besar, diakui atau tidak diakui…memang sih bangsa Jepang sempat mengakali dan meliciki Indonesia, tapi kenyataan menjelang kemerdekaan bangsa Jepang lah yang membantu persiapan kemerdekaan Indonesia….
kalau bangsa Jepang ga datang ke Indonesia barangkali Indonesia masih ada di bawah Belanda…ini sekedar sisi lain dari kedatangan bangsa Jepang ke Indonesia..
BPUPKI adalah badan persiapan kemerdekaan Indonesia bentukan Jepang..
bahasa Indonesia,…ilmu pencak silat bisa menjadi ciri khas bangsa karena salah satunya peran bangsa Jepang…
siapa yang mengkoordinasikan pencak silat yang semula bercerai berai dalam aliran perguruan masing2, kalau bukan diawali dengan kebijakan pemerintah pendudukan Jepang..
bahkan tentara dai niippon di indonesia pun dibekali ilmu pencak silat,..ini kenyataan…benar silahkan digali sejarah pencak silat…banyak tentara jepang yang akhirnya melebur menjadi WNI, ada yang nasibnya baik kemudian menjadi pengusaha di Indonesia…ada yang apes dan terlunta-lunta…..ada juga yang menjalin cinta dengan para wanita Indonesia….ah banyak banget kisah seperti ini,,
yang jelas sih memang sedikit banyak peran bangsa Jepang buat kemerdekaan Indonesia itu ada lah bahkan cukup berperan….
disamping karena perjuangan bangsa Indonesia sendiri…
saya malah yakin salah satu sebab kedatangan bangsa Jepang ke indonesia dan mengaku sebagai saudara tua karena berdasarkan ramalan dalam spiritualis shinto bahwa pahlawan dunia dari bangsa timur akan dilahirkan di indonesia dan mempunyai darah dari samurai Jepang hahahaha…
jangan disepelekan bangsa Jepang tuh juga banyak percaya ramalan…
dan memang sih…bahwa sekarang di Jepang pun ada banyak dibuat kisah-kisah film tentang hubungan bangsa Jepang dan Indonesia khususnya waktu perang dulu….apa ini semua maknanya kalau bukan karena euforia massa rakyat Jepang dan pengaruh spiritualis shinto tentang sosok SP….hahaha…
Budak angon
November 27th, 2010 pada 10:08
Opo tumon sufi arab disamakan dgn gol. TS? Surga/nrk?
“Oh Tuhan, jk q nyembah-Mu krn takut api neraka, bakar q didlmnya, jk brharap surga campakan q dr sn, aku msembah-Mu krn Engkau semata, mk jgnlah Engkau sembunyikan keindahan-Mu yg abadi.
Budak angon
November 27th, 2010 pada 10:42
Semesta ini, sluruhnya gelap gulita, yg mnerangi adlh tampilnya allah didalamnya. Barangsiapa yg melihat semesta tp tdk mnyaksikan allah di alam semesta, mk ia benar2 tlh dikaburkan mata hatinya dari wujud cahaya2 allah & ia tertutupi dari ma’rifat oleh mega2 dunia semesta.
Budak angon
November 27th, 2010 pada 16:58
Emang sinden satu ini bandel bener sih…!, sdh dibilang sp itu putra pendawa yg diemong semar! Msh aja belok ke samurai, emang sih dia tahu jenisnya spt pedang? bener! nenek moyang jepang udah ramal, jenis “besi” tp itu keris tahuuu … Pasukan panji2 hitam hatinya kepingan besi!
Budak angon
November 27th, 2010 pada 17:10
Keris itu ya sp!, sp itu bsemayam dibadan/warangka (ref. Jayabaya “rmh-nya spt raden gatut kaca”. Ktk bayi pusernya gak mempan dipotong, lalu dipotong pakai warongko, msk ke puser). Ya mmg, harakiri model jepang tusuk ke daerah perut itu niru2 gaya sp he he …
Budak angon
November 27th, 2010 pada 17:28
Sabdo gaib, “… cari gegamene kongsi ketemu” (keris) … Ketemu=dipingit. Sp/kerise ramaku, yg ol mpu Tantular dilarung ke laut stlh tragedi “bubat”, Jd bkn asal keris. telmi bener sih he he … bro dijuru, bru dipanto ngalayah di tengah imah, nusa satu lg nusa jaya lg, amiin ya robal alamin
Budak angon
November 27th, 2010 pada 17:43
Wis toh saiki nyanyi sing apik… bentar lg makmur, tp perang/goro2 disik ben ramai, ben buto cakil do mati kabeh, bubar goro2 semar metu, panokawan do senyum, gemah ripah lohjinawi, tata raharjo, y mmg spt itu pakeme, gak bs dirubah he he …
Budak angon
November 27th, 2010 pada 18:08
Sing bc tulisanku dilarang senyum2 sendiri, skrg blm waktunya senyum! Tp kudu eling eling … urip urip ben do slamet, goro2 blm selesai … tp unt gol TS, Raja pendeta, putrinya bulurah boleh lah ketawa sambil ngejek, he he …
Budak angon
November 28th, 2010 pada 11:48
Kemana ya putrinya bulurah? Apa lg dandan mau pentas? Rindu juga pingin denger nyanyiannya yg kadang merdu kadang sumbang he he …
ya beginilah, sepi kalau kekasih jauh … hampa!
tp q gak mau sedetikpu jauh dari-Nya, suara-Nya merdu …
Nasrudinkb
Desember 1st, 2010 pada 14:09
Dengar2 ada silat Pendawa lima ,betul ke wassalam, maaf soalan saya ini
Beny Hushein
Maret 16th, 2011 pada 22:54
sdr Nasrudinkb…..betul ada perguruan Silat Pendawa Lima…..pusatnya di Tasikmalaya…..saya salah satu muridnya…..saya belajar th 1979…….
mas ilham
Desember 17th, 2010 pada 11:40
askum,,mohon ijinya mas untuk ikut memiliki tulisan ini dan sy tampilkan di blog sy,,agar masyarakat kita senantiasa cinta sejarah jawa,,,beribu trimakasih sy haturkan,,semoga sehat selamat dan bahagia selalu,amin.salam,
joko lelono
Januari 31st, 2011 pada 10:29
Mbah…….padepok’an panjenengan wonten pundi…?
cerita wayang
Februari 1st, 2011 pada 18:22
SANGHYANG TUNGGAL
oleh Kumpulan Cerita Wayang pada 15 Mei 2010 jam 23:25
Sang Hyang Tunggal menikah dengan Dewi Darmani putri Sang Hyang Darmajaka (Darmakaya) raja Kahyangan Keling (negeri Selong) yang tidak lain adalah kakak kandung Sang Hyang Wenang sendiri. Lalu Sang Hyang Tunggal dinobatkan menjadi raja di Kahyangan Keling menggantikan Sang Hyang Darmajaka. Dari perkawinannya dengan Dewi Darmani, Sang Hyang Tunggal dikaruniai beberapa orang anak dalam wujud ‘akyan’ (jasad halus) mereka adalah : Sang Hyang Rudra / Dewa Esa, Sang Hyang Dewanjali dan Sang Hyang Darmastuti.
Sang Hyang Tunggal yang gemar membaca Serat (kitab) Pustaka Darya yang berwujud suara tanpa sastra (tanpa tulis) itu menjadi tertarik dengan kisah perjalanan Sang Hyang Nurcahya (kakek buyutnya). Ia memutuskan untuk meniru sang kakek buyut, yaitu bertapa untuk mencapai cita-citanya menjadi penguasa di tiga lapisan dunia (Tribuana / Triloka). Kahyangan Keling pun ia serahkan kepada putera sulungnya yaitu Sang Hyang Rudra.
Sang Hyang Tunggal kemudian bertapa tidur di atas sebuah Batu Datar. Begitu heningnya ia bertapa, ketika terbangun ia telah berada di sebuah istana indah di dasar samudera. Tanpa sadar sebenarnya Sang Hyang Tunggal telah diculik oleh raja siluman kepiting bernama Sang Hyang Rekatama (Sang Hyang Yuyut) untuk dinikahkan dengan putrinya. Putri Sang Hyang Rekatama yang bernama Dewi Wirandi (Dewi Rekatawati) mengaku pernah bertemu dengan Sang Hyang Tunggal di alam mimpi, dan jatuh hati kepadanya. Karena itu adalah jalan untuk mewujudkan cita-citanya, maka Sang Hyang Tunggal menerima lamaran tersebut.
Sang Hyang Tunggal lalu membawa Dewi Wirandi (Dewi Rekatawati) ke istana Jonggring Salaka (Kahyangan Suralaya) di gunung Tengguru (Himalaya) untuk mendapat restu dari ayahnya. Kemudian Sang Hyang Wenang menyerahkan Kahyangan Suralaya kepada Sang Hyang Tunggal. Dan lalu Sang yang Wenang mokswa, tinggal di swargaloka awang-uwung kumitir.
Sang Hyang Tunggal kini bersemayam di Kahyangan Suralaya bersama kedua istrinya, Dewi Darmani dan Dewi Wirandi. Saat itu Kahyangan Suralaya masih belum berpenghuni lain selain mereka bertiga.
Pada suatu ketika, Dewi Wirandi yang hamil besar itu melahirkan, namun yang dilahirkan oleh sang dewi bukanlah sesosok bayi, tapi ia melahirkan sebutir telur.
Sang Hyang Tunggal bermujasmedi mengheningkan cipta masuk ke Swargaloka Awang Uwung Kumitir. Dihadapan Sang Hyang Wenang, ia menceritakan perihal telur yang dilahirkan oleh istrinya.
Sang Hyang Wenang memberi petunjuk dan memberikan air kehidupan ‘Tirta Kamandalu’ kepada Sang Hyang Tunggal.
Sesuai petunjuk ayahnya, telur itu ia puja hingga meretak dan pecah berserakan menjadi tiga bagian, kulit, putih dan merah telur. Sang Hyang Tunggal menyiramkan ‘air kehidupan’ Tirta Kamandalu secara bersamaan kepada bagian telur yang tercerai berai. Secara ajaib, kulit, putih dan merah telur itu berubah menjadi tiga sosok bayi. Sang Hyang Tunggal memberi nama masing-masing bayi yang tercipta, dari kulit telur diberi nama Sang Hyang Antaga, sedangkan bayi yang tercipta dari putih telur diberi nama Sang Hyang Ismaya, dan bayi yang tercipta dari merah telur diberi nama Sang Hyang Manikmaya. Kelak ketiga putra Sang Hyang Tunggal ini akan mempunyai peran penting dalam meramaikan Jagat Pramuditya (wayang).
dahlia osman
Desember 1st, 2011 pada 22:17
Cerita Wayang……..
Saya sangat tertarik dengan tulisan cerita SANGHYANG TUNGGAL.Saya sememangnya peminat cerita cerita dewa dari ketururnan PENDAWALIMA.Saya dari Malaysia..datuk saya (yayi)keturunan jawa kuno berasal dari KENDAL.Dari beliau saya dengar banyak cerita dewa dewa terutama PENDAWALIMA. Yayi saya sememangnya masih percaya pada PENDAWALIMA kerana dia telah diasuh sedari kecil oleh datuk moyangnya tentang PENDAWALIMA.Yayi saya juga tidak pernah memakan denda benda bernyawa.Tapi yayi telah lama meninggal (40 tahun lebih) dan kini saya tidak lagi memdengar cerita cerita PENDAWALIMA .Namun apabila saya terbaca block Cerita Wayang saya rasa begitu senang sekali …terima kasih
dewi
Februari 6th, 2011 pada 11:22
@ sabdalangit,
sugeng siang ki sabda, tolong di ulas cerita wayang dewi drupadi, wanita yang berpoliandry memiliki 5 orang suami.
matur sembah nuwun,
dewi
Togog
Februari 6th, 2011 pada 11:59
dewi drupadi ini mirip dgn rina aihzahwat hhh …
suaminya 100 hhh ….
ya kalau dia bisa adil
dia gak adil … suami setoran yg banyak dia layani
yang setorannya dikit ….. dipantatin huh … amit-amit
dewi
Februari 7th, 2011 pada 12:56
@ mas togog,
salam kenal mas, ….he he he…. anda bisa aja, ibarat pribahasa : ada uang abang sayang, tak ada uang abang kutendang… he he he…
saya baru2 ini baca ruang “pandawa lima”, lha pandawa lima kan suaminya dewi drupadi , putri dari raja drupada. konon ceritanya ini mengalami distorsi akibat pengaruh islam masuk kejawa, karena wanita dalam islam dilarang punya suami lebih dari satu maka ceritanya di sesuaikan dengan ajaran islam. dewi drupadi pun hanya diceritakan sebagai istri yudistara saja. (saya bisa crita begini habis ngintip di google…)
dari kelima perkawinan tsb, drupadi di karuniai 5 orang putra, masing2 suami memberi 1 putra:
1. Pratiwinda (dari hubungannya dengan Yudistira)
2. Sutasoma (dari hubungannya dengan Bima)
3. Srutakirti (dari hubungannya dengan Arjuna)
4. Satanika (dari hubungannya dengan Nakula)
5. Srutakama (dari hubungannya dengan Sadewa)
kita bisa memetik hikmah dari sini, alqur`an mengajarkan : katakanlah kejujuran itu, walaupun kejujuran itu sangat pahit kenyataanya… he he he….
oh ya mas togog, tolong lihat ruang/rubrik sebelah juga ya, seperti “tanya jawab”, “berserah diri pada tuhan”… aku ada beberapa pertanyaan/usul yang mungkin teman2 bisa ikutan sharing disana.
thanks,
dewi
tomy
April 26th, 2011 pada 12:53
cobi Mbak Dewi njenengan nyuwun wedharanipun SASTRA CETHA kaliyan Kangmas Sabda… wonten mriku gamblang trewaca ingkang panjenengan kersakaken
dewi
April 26th, 2011 pada 18:56
@ Tomy
matur suwun pak/mas tomy dan salam kenal dari saya.
tentang dewi drupadi saya membacanya dari wikipedia-google.
eh,ternyata versi aslinya, dewi drupadi bersuamikan semua pendawa lima itu,tapi setelah kerajaan majapahit di takhlukkan oleh islam yang dimotori oleh wali songo, cerita versi aslinya di edit/disesuaikan dengan kultur islam yang berkembang pada saat itu.
btw,puisi njenangan… andai saya bisa menegerti versi bhs indonesianya. tapi saya bisa merasakan puisinya cantik sekali.
salam sayang,
dewi
tomy
April 29th, 2011 pada 12:08
oke Mbak Dewi, makasih atas apresiasinya… puisi tersebut berbentuk tembang macapat Asmaradana, saya membuatnya dengan mengisahkan keindahan kehidupan bercinta suami-istri…bukan kompetensi saya untuk membuat tembang macapat dngan banyak petuah
melanjutkan komen saya, di Sastra Cetha panjenengan akan mengerti tentang falsafah Dewi Drupadi bersuamikan Pandawa Lima sehubungan dengan pencapaian hidup juga samadhi
coba panjenengan nyuwun pirsa Mas Sabda… pasti beliaunya berkenan membabar
dewi
April 29th, 2011 pada 15:30
@ Tomy arjunanto
terima kasih mas. saya tunggu puisi2 selanjutnya…
@ Ki sabda,
ki, tolong draft ‘sastra cetha’ di munculkan, supaya kita semua bisa membacanya disini. matur sembah nuwun.
salam katresnan,
dewi
dewi
Mei 2nd, 2011 pada 13:10
@ Tommy arjunanto,
terima kasih, saya sudah membaca sastra cetha yang ada diruang ‘olah semedi’, disitu tidak disebutkan antara pencapaian hidup dewi drupadi dalam berpoliandri dan keterkaitannya dengan olah semedi.
by the way, masnya bikin puisi asmaradana itu berdasarkan pengalaman pribadi atau self interest aja?
bagus,indah dan positif sekali. sajak ini bisa mengispirasikan generasi muda untuk berkarya dalam bidang satra/seni bercinta.
salam tresno budoyo,
dewi
amat
April 24th, 2011 pada 13:16
nuwun, kangmas kulo bade tanglet makna bima dalam jatidiri manusia itu apa (aduh bahasanya tidak karuan) karena ketika saya mimpi dikatakan bahwa kamu adalah bima maksudnya bagaimana itu? Terima kasih atas penjelasannya
SABDå
April 26th, 2011 pada 10:22
Mas Amat Yth
Bima merupakan simbol diri yang mau mensucikan setiap pikiran, hati dan perbuatannya, untuk suatu tujuan agar supaya dapat manunggal dengan Gusti (Dewa Ruci).
Salam karaharjan
tomy
April 26th, 2011 pada 12:47
ASMARADANA
Ngayut ndriya ndudut ati,
Kwasa ngimpun rahsa mulya.
Tuhu lam-lamen ketreme,
Nyawiji kang dadi sedya.
Mbabar gatining wacana,
Tetimbangan tresna tuhu,
Jimat tulus panarima.
Nimas pepujaning ati,
Salira wewangi ganda.
Rinuket sajroning jinem,
Tan nedya ginggang sakrikma.
Krya sesotya sun pepuja,
Sang mustikaning pandulu,
Sulistya endahing warna.
Tresnaku sundul wiyati,
Tumuwuh jroning prasaja,
Sumedya andum ing paweh,
Daya kamulyaning gesang.
Tinerak alun asmara,
Mbangun turut atut runtut,
Cumbana sigaran nyawa.
………..dening Tomy Arjunanto
dewi
April 30th, 2011 pada 15:53
@ tommy arjunanto,
“Perempuan adalah betina yang bersifat pasif,siap, dan menunggu jantan. Betina bisa saja ‘mengundang’ jantan, tetapi tidak bisa melakukan kopulasi dan pada akhirnya jantanlah yang melakukan kopulasi bahwa kopulasi jantan diatas betina”.
* Kopulasi = senggama/persetubuhan, dari buku “bias gender” karangan jiwa atmaja. Menuliskan sebuah terminologi perkawinan,seksualitas dan bias gender.
Bangsa timur meluhurkan senggama dan memuliakannya, hal ini kita bisa lihat dari sastra2 seperti gaya bercinta kamasutra dari india, filsafat ying & yang dari ajaran tao-budha china, serta tak ketinggalan romantisme serat centini dari tanah jawa.
amandal senggama juga tertulis dalam epos mahabarata. Sang Pandu (ayah arjuna) dikutuk oleh Rsi Kindama,yakni agar wafat kalau ia melakukan senggama sebelum mencapai ‘surasaning langen’. karena ia telah berdosa, karena panah sang Pandu telah memutuskan kenikmatan senggama dua ekor kijang yang tengah berkasih-kasihan pada saat belum mencapai puncak rasa/surasaning langen.
Kisah sang Pandu ini menunjukkan bahwa senggama binatang saja dihargai apalagi senggama manusia beradab yang melakukannya dengan penuh keluhuran…
Saya tunggu karya asmaradana2 anda selanjutnya.
Salam puitis,
Dewi
tomy
Mei 3rd, 2011 pada 13:22
dalam perjalanan hidup ini kita bisa mendapatkan rahsa sejati dalam hidup perkawinan dengan pasangan hidup kita… bagai sebuah pewahyuan akan jati diri kita dengan pasangan hidup …. seperti suatu perasaan ‘menemukan’ apa yang selama ini selalu dicari…..
Sastra Cetha merupakan kitab pelajaran samadhi & falsafah yang cukup panjang, semoga Mas Sabda berkenan membabarnya lebih lanjut
dewi
Mei 3rd, 2011 pada 19:45
@ Tommy arjunanto,
hmmm, so sweeeettt….
mas, kalau bisa, mohon diterjemahkan kedalam bahasa indonesia dong.
kita2 yang masih muda kan nggak ngerti isinya apa. terima kasih ya.
salam manis,
dewi
hi hi hi
April 26th, 2011 pada 16:38
saya ini…cuma b la…b la…b la…hi hi hi…
de wa…de wi…de we…de java…
wes…sew es….sew…esss…hi hi hi…
hi hi hi
April 29th, 2011 pada 17:11
Gempa bumi berkekuatan 6,0 skala richter (SR) mengguncang Nangroe Aceh Darussalam sore ini, pukul 15.56 46 WIB.
Berdasarkan informasi dari Badan Meterorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) gempa berkekuatan 6 SR ini berada di lokasi 3,89 LU, 95,61 BT atau 63 km Barat Daya Meulaboh – NAD
apa daya…barat daya…sabda tak berdaya…ya…ya…ya…hi hi hi…
pinto khop…hi hi hi…66
widji midjil
April 29th, 2011 pada 22:44
Selamat malam Mas Hi.hi.hi……..terima kasih atas infonya……….akan ada apa lagi negeri ini??…….///salam rahayu
hi hi hi
April 29th, 2011 pada 17:18
aku bantu l meng abu l kan permintaan mu…hi hi hi…
manunggangi kawulo…lo…lo…lo…hi hi hi…
jangan bing ung dan jangan melo ngo…hi hi hi…
hi hi hi
April 29th, 2011 pada 17:23
Bi ma itu rel kereta…b la b la b la…hi hi hi…
huuusss…mingkem kamu…hi hi hi…
hi hi hi
April 30th, 2011 pada 07:50
gelang si patuh gelang…hi hi hi…
ja kar ta…bukan ja gya kar ta…hi hi hi…
ba ta via bukan van ja va…seperti opera van java…hi hi hi…
terputus urat maluku…hi hi hi…go gel…to gel…hi hi hi…
hi hi hi
April 30th, 2011 pada 16:20
hoi…kamu masih bau tau…puuuh…wusss…hi hi hi…
buakti kan saja ya…ya ya ya…hi hi hi…
hi hi hi
Mei 3rd, 2011 pada 14:26
ma na bisa men’jabar kan…hi hi hi…
wong man’di juga bl’on…hi hi hi…
luhur jangan dibaca lahar…hi hi hi…
hi hi hi
Januari 5th, 2012 pada 08:23
dingin Sabda?!……hi hi hi….
dewi
Mei 3rd, 2011 pada 19:24
@ hi hi hi,
udah tau aku bau, ngapain ngikutin aku terus…
dasar setan hi hi hi yang bau.
salam lekaslah mandiri (mandi sendiri),
dewi
JS
Mei 3rd, 2011 pada 19:31
Selamat malam Jeng Dewi…….njenengan sepertinya sangat cerdas……Indoesia sangat butuh para pahlawan untuk nguri uri budoyo supaya terus terjaga nilai budi luhur dan budaya Nusantara….Saya bertempat tinggal di derah kecamatan Tegalsari….suwun
JS
Mei 3rd, 2011 pada 19:35
Fenomena hewan Nusantara sepertinya hampir tidak ada……..Apakah hama ulat di Bali sudah hilang/mereda??…..salam rahayu
dewi
Mei 3rd, 2011 pada 20:05
@ JS
terima kasih pak, saya sebenarnya masih belajar (secara otodidak) saja, namun saya juga menyertakan kemampuan saya berpikir dan menulis disini.
tentang fenomena ulat bulu, disini di bali juga ada sama seperti di jawa dan pulau2 lainya di indonesia, melanda beberapa desannya. yang saya lihat di TV masing2 memiliki ciri corak warna tersendiri serta sasaran serangannya. dan sepertinya tidak begitu berbahaya/mengancam kecuali menimbulkan rasa jijik yang luar biasa. untuk berita selanjutnya bisa disaksikan di layar TV… he he he…
salam rahayu,
dewi
wikiwae
Mei 7th, 2011 pada 14:41
setelah membaca artikel n beberapa komentar, saya merasa berada di dunia pewayangan..dredeg..
wisnu tiang djawi
November 8th, 2011 pada 22:10
Sungguh suatu anugrah qta lahir di dit4 yg mempunyai nilai2 budaya yg tinggi…..seyogyanya qta patut memelihara dan menjaga budaya luhur qta supaya anak cucu qta tdk lupa akan budaya leluhur qta yg tlh menjaga slm ini….salam paseduluran buat para pecinta budaya jawa…
Mas Hary Ono
November 18th, 2011 pada 10:40
mengenang cerita yang saya perolah zaman dulu
Mas Hary Ono
November 18th, 2011 pada 10:41
gg
Any SAG
Januari 4th, 2012 pada 19:42
siapa nama wayang yang meimiliki tangan banyak ?
Hadi Suprodjo
Januari 27th, 2012 pada 00:51
Artikel Pandhawa Limanya runtut sekali, semoga banyak dibaca oleh kawula muda generasi penerus, memilah memilih mana yang baik mana yang buruk. Terima kasih.
FATMAYONI YUKA BIMANTARA
Maret 14th, 2012 pada 02:34
Yg jelas istilah / pandawa 5, panutan atau pengemudi hidup manusia,
saya seseorang yg bernama Bimantara, dan sya wajib mencontoh sifat dan perilaku baik sosok werkudara/Bima. dan sifat jelek sosok werkudara / bima di masa lalu, atau masa cerita pewayangan
FATMAYONI YUKA BIMANTARA
Maret 14th, 2012 pada 03:11
asalamualaikum,wr,wb semua
sekedar pesan aja nih,
Yg jelas istilah atau pandawa 5, adalah panutan atau pengemudi hidup manusia, berdasarkan gambaran dunia pewayangan,
saya seseorang yg bernama Bimantara, dan sya wajib mencontoh sifat dan perilaku baik sosok werkudara/Bima. dan sifat jelek sosok werkudara / bima di masa lalu, atau masa cerita pewayangan insya Allah td akn sy terapkan didalam diri ini.
menurut q yah.: semua jenis kejelekan,kejahatan dan sebagai nya itu tdk semua nya harus di pandang negatif. semua pasti punya alasan tertentu. tapi pernah kah kita mencoba melihat sisi baik hal2 tersebut? memang kejahatan pasti nya jahat. tapi apakah kebaikan benar2 baik? kebaikan yg baik adalah kebaikan yg berasal dari hati kecil kita. oleh sebab itu NB aja ya: mulailah perhatikan hal2 yg kecil baru lah hal2 yg besar. marilah kita bersama2 mempelajari pewayangan ini karna kita semua butuh kebenaran ny dan penjelasan. untuk yg nanti nya bakal di warisi oleh generasi muda.
jangn seperti negeri ini berlomba2 bersaing dgn negara lain untuk menciptakan susuan pemerintahan atau menciptakan hal2 yg sekiranya tdk layak/penting untuk di kerjakan, masa kalah sama cina, cina bikin jarum jahit indonesia ngapain? bukan berarti harus ikut cina ya, paling tdk kita harus menciptakan hal2 kecil di negeri ini, barulah yg besar, kita lestarikan budaya ini bersatu dalam persaudaran yg solid.
maaf ya agak melenceng dari bahasan topik wayang, ini sekedar aspirasi q aja, krn saya ingin budaya kita lebih terkenal di manapun.
luaaaar biiiiaaaassaaa……………
salam indah semua nya…………………………..
sukses selalu…………………………………………………
Ratu Adil
Maret 14th, 2012 pada 12:01
Ada satu istri Arjuna yang tak disebutkan disitu yaitu Dewi Banowati, yang menjadi istrinya dikehidupan sekarang.
Ratu Adil
Maret 14th, 2012 pada 12:30
Jodoh SP yang di lebak cawene, kemungkinan dimasa lalu pernah hidup sebagai saudarinya. Karena itulah prabu siliwangi III berpesan di paragraf yang sama dengan “cari kian santang, menikah di lebak cawene itu tanda proklamasi negaranya. jangan menoleh kebelakang.” artinya jangan diingat lagi masalalu saat mereka hidup sebagai saudara.
Ratu Adil
Maret 14th, 2012 pada 12:34
Kalau shikandhi itu bukan yang ditunggu di lebak cawene, melainkan cuma pasangan untuk perang saja. Karena sp kan berpoligami.
Sebenarnya SP itu hendak hidup selibat karena ia tak menyukai kehidupan rumahtangga yang capek kotor dan bau, cuma karena ramalan inilah yang menjadikan ia berpoligami. Karena bagi SP cuma ada dua pilihan, selibat atau poligami.
Ratu Adil
Maret 14th, 2012 pada 12:46
Untuk kebutuhan biologis bagi sp itu mudah, tapi ia cukup pintar untuk menolak kehidupan rumahtangga. sedangkan soal keturunan untuk jadi raja, semua orang adalah keturunannya karena ia Adam, jadi ia tak perlu harus menikah. sedangkan tentang eva itu, justru diakhir jaman ia harus menutup dengan sendiri, bukan dengan eva lagi sebagai bagian dari pengkondisian pikiran untuk menjadi bhikkhu.
jadi itulah, cuma karena ramalan saja ia kawin. terjemahan aslinya kawin dilebak cawene, tapi oleh orang sekarang ditukar jadi menikah.
sp tak akan pernah melakukan upacara nikah ataupun memakai penghulu, karena ia hendak menjadi teladan bagi rakyatnya untuk tak mengulangi upacara dan ritual purba. dengan begitu ia menggunakan buddhinya sebagai manusia, tidak seperti hewan.
Ratu Adil
Maret 14th, 2012 pada 12:52
Sebagai ganti dari menikah, SP akan mengadakan upacara besar di bandung. setelah ia mengumpulkan seluruh istrinya. 6 istri manusia, 1 istri jin, dan beberapa selir, untuk sekedar mengatakan, “ini istri-istri saya, ini kemenangan saya.”
dan itu tak memakai penghulu samasekali, karena ia tak butuh makhluk manapun untuk melegalkan percintaannya. cukup alam tahu saja.
Ki Agung Gledek Sayuto
Maret 14th, 2012 pada 13:13
Arah penyebaran agama buddhi adalah:
- Mula-mula Parikshit atau Jesus muncul disatu tempat dan menyebarkannya.
- Ia lalu pindah ke bandung atau lebak cawene untuk menyebarkannya.
- Dari bandung ke jakarta. dari jakarta ke pelabuhan ratu, karena ia melihat didaerah itu masih ada yang tak mau diarahkan ratu adil.
- Dari pelabuhan ratu ia ke semarang. dari semarang ia menuju sumatra disatu kota yang dari dulu selalu melawan kebenaran. tidak semua wilayah di indonesia yang selalu menentang, cuma satu saja.
- dari situ ia kembali ke yogya. diyogya ini ia hendak diangkat jadi raja tapi ditolaknya karena ia sudah punya satu istana di bandung, dan tak berniat puinya lagi di yogya.
- dari yogya ia pergi ke seluruh wlayah jawatimur. cuma dijawa timur ia mau datang ke kota-kota kecil.
Sedangkan kisah penyebaran buddhi di arab akan saya kabarkan tahun depan. bukan karena masih lama akan terjadi maka tak diramal, tapi karena memberi ruang bagi lawan-lawan untuk tetap berkreatifitas selama di arab. saya akan datang jika sudah jadi.
Ki Agung Gledek Sayuto
Maret 14th, 2012 pada 13:14
Saya bukannya tidak bisa menjadi hebat tiba-tiba, tapi sebagai Adam saya memberi kesempatan bagi anak-anak kecil untuk mengira sedang berkegiatan.
2 Trackbacks / Pingbacks
julia perez » situ gintung April 22nd, 2009 pada 00:43
[...] Pendawa Lima PENDAWA LIMA 1. PRABU YUDHISTIRA PRABU YUDHISTIRA menurut cerita pedalangan Jawa adalah raja jin negara Mertani, [...] [...]
dewi persik » Blog Archive » bencana situ gintung Juni 26th, 2009 pada 06:41
[...] Pendawa Lima PENDAWA LIMA 1. PRABU YUDHISTIRA PRABU YUDHISTIRA menurut cerita pedalangan Jawa adalah raja jin negara Mertani, [...] [...]