Tuhan benar-benar maha luas tiada batas ! Maka tidak lah berlebihan jika dianalogikan bahwa kebenaran sejati layaknya cermin yang pecah berantakan, dan agama, ajaran, budaya, ilmu pengetahuan, tradisi, masing-masing hanyalah memungut satu di antara serpihan cermin tsb.
EMPAT dimensi (dimensi ruang ditambah waktu), hanya ada di dalam dimensi wadag/fisik bumi. Sementara tata “ruang” gaib sungguh menyimpan misteri yang maha luas dan dahsyat. Dalam “tata ruang” gaib sudah yang tidak ber-ruang lagi, dan di dalamnya tidak berlaku waktu, tidak berlaku jarak. Itulah hakekat dari dimensi cahaya. Bahkan kecepatan melebihi kecepatan cahaya.
…untuk mencapai pergerakan maksimum di dimensi ruang maka pergerakan di dimensi waktu harus nol. Pada kondisi inilah kecepatan benda menempuh dimensi ruang bisa maksimal. Dan sesuai dengan teori relativitas khusus, bahwa kecepatan maksimal adalah kecepatan cahaya, segera kita sadari bahwa cahaya sama sekali tidak bergerak pada dimensi waktu. Dengan kata lain, foton tidak berumur. Foton yang dihasilkan semenjak alam semesta terbentuk sampai sekarang umurnya sama!
Ini terkait dengan salah satu formula teori relativitas khusus yang sangat terkenal: E=mc2, di mana E adalah energi, m adalah massa, dan c adalah konstanta kecepatan cahaya. Formula tersebut menjelaskan relasi langsung antara energi-massa (konservasi energi-massa). Sebuah objek dengan massa m bisa menghasilkan energi E sebesar mc2; dan karena c sebuah konstanta yang besar, massa yang kecil tetap akan menghasilkan energi yang besar.
Bayangkan, Hiroshima tahun 1945 hancur akibat energi yang dihasilkan 1ýari 2 pounds Uranium. Di sisi lain, formula ini memainkan peranan penting dalam pergerakan objek dalam 4-dimensi. Benda yang bergerak memiliki energi kinetik, semakin tinggi kecepatannya semakin besar energinya.
Saat kita paksa partikel muon mencapai kecepatan 99,9 kecepatan cahaya, muon memiliki energi yang besar. Karena konservasi energi-massa, energi tadi meningkatkan massa muon 22 kali lebih massif daripada massa-diamnya (0.11 MeV). Tentu saja semakin masif (pejal) benda, semakin susah untuk bergerak cepat. Ketika kecepatannya dinaikkan menjadi 99,999 kecepatan cahaya, massanya bertambah 70.000 kali! Muon semakin masif dan semakin cenderung untuk tidak bergerak. Sehingga dibutuhkan energi yang tak berhingga untuk melewati kecepatan cahaya; jumlah energi yang tidak mungkin bagi sesuatupun yang ada di alam semesta ini: KECUALI JUMLAH ENERGI TUHAN. (Wongalus.wordpress.com)
Sukma/roh adalah “abadan cahya” (cahya sejati) sehingga bagi roh/sukma ke manapun pergi tidak membutuhkan waktu lagi. Orang bilang kecepatan sukma melesat dari satu tempat ke tempat lain (dalam meraga sukma) hanya memerlukan hitungan detik, sekedar untuk menggambarkan betapa di “wilayah” gaib merupakan wahana cahaya yg tidak menggunakan hitungan dimensi ruang dan waktu lagi. Namun demikian, cahya sejati belumlah hakekat TUHAN, ia masih makhluk (ciptaan/retasan Tuhan). Sehingga tak bisa dibayangkan lagi bagaimana “kecepatan” Tuhan, mungkin beribu atau bermilyar kali lipat dari kecepatan cahaya. Dan hanya sampai di situlah yg bisa dibayangkan oleh manusia. Di atas cahya sejati (nurulah) adalah atma atau energi hidup/chayyu/kayun/kayu. SUATU “ENERGI hidup” YANG KECEPATANNYA JAUH MELEBIHI CAHAYA. Bisa anda bayangkan ? Namun Atma sejati belumlah “inti” TUHAN, karena atma masih di dalam rengkuhan HYANG MAHAMULIA.
Hal ini setidaknya dapat terbuktikan melalui suatu pengalaman gaib yg sensasional, yg membeberkan “rahasia besar” bahwa leluhur di alam barzah, sekalipun mencapai derajat kamulyan yg paling tinggi (kamulyan sejati/abadan cahya sejati), belumlah bisa melihat/bertemu “wujud” Tuhan. TUHAN tidak SESEDERHANA itu. Karena tuhan lebih-LEBIH DARI MAHA MULIA, LEBIH DARI MAHA AGUNG, tidak sekedar sebagaimana manusia bayangkan melalui kitab-kitab suci yang ada.
Semakin manusia mengetahui kebesaran tuhan, manusia semakin merasa tidak bisa membayangkan tuhan itu seperti apa sesungguhnya. Namun yang di luar bayangan imajinasi kita itu, sungguh ada melekat di dalam diri kita, dalam diri manusia apapun agama, bahasa dan suku bangsanya.
Semakin manusia tahu Tuhan, semakin merasa kecil dan menunduk diri. Jauh dari watak mentang-mentang, jauh dari sikap merasa paling benar, apapun yang menjadi sumber referensinya.
MATA MELIHAT MATA = MANUSIA “melihat” TUHAN.
Untuk sekedar pembuktian ilustratif saja, bagaimana kemampuan manusia dalam melihat/mengetahui/bertemu tuhan adalah ilustrasi saya sebagai berikut: Bola Mata wadag kita bisa melihat suatu obyek yang berada di luar mata kita. Namun demikian, apakah bola mata kita bisa melihat apa yg ada di dalam bola mata kita sendiri ?
Maka hanya dengan “rahsa”lah kita bisa “merasa” apa yg ada di dalam bola mata kita. Tuhan hanya bisa kita rasakan, dan itulah kemampuan manusia maupun roh dalam “melihat” tuhan.
APAKAH TUHAN ITU ?
Dalam pendekatan rasio dikenal suatu hukum alam, lebih populer lagi sebagai hukum sebab akibat. Maka Tuhan merupakan konsep utama sebagai CAUSA PRIMA, yakni penyebab utama tanpa ada yang menyebabkan eksistensiNya. Jika pendekatan melalui teori energi, maka Tuhan merupakan EPISENTRUM dari segala episentrum dan energi yang ada di jagad semesta.
Soal Tuhan mana yang paling bener, atau sebutan nama Tuhan yang palsu apa ? Apakah Allah, Alloh, Tuhan, Pi khong, Brahman, God, Puang Alah, Yahweh, Dei dan seterusnya ?
Berbicara dalam konteks rasio, semua itu tentu saja masih berupa kebenaran yang bersifat relatif. Karena nama-nama itu berkaitan dengan sistem budaya yakni, BAHASA sebagai alat komunikasi yang digunakan manusia. Logiknya sebelum manusia mengenal bahasa, maka konsep nama-nama di atas tentunya belum ada, dengan kata lain, causa prima (tuhan) belum punya nama apapun.
Jika pemahaman di atas ada yang menganggap statementnya kapir kopar, yang menjadi pertanyaannya, apakah gara-gara salah menyebut nama untuk Tuhan maka akan mengakibatkan seseorang kecemplung nroko ? Bukankah kita semua ini memeluk salah satu agama hanya faktor kebetulan saja, dan tak lebih karena faktor keturunan (warisan) orang tua kita. Nah, apakah hanya faktor kebetulan, faktor keturunan, dan warisan ortu tsb menentukan orang masuk nroko atau suwargo ?
BENARKAH TUHAN ITU DAPAT DIHITUNG ?
Pertanyaan selanjutnya, apakah TEPAT, dikatakan Tuhan Maha ESA ? Jika jawabannya ya, berarti Tuhan itu sesuatu yang COUNT-ABLE (dapat dihitung). Jika jawabnya ya juga, berarti Tuhan itu sangat terbatas, dengan demikian mengingkari dalil Tuhan Mahaluas tak terbatas. Saya mengharapkan bantuan para pembaca yang budiman untuk memberikan pencerahan atas mind set tersebut.
Hal ini saya kemukakan karena di dalam benak saya Tuhan itu sebagai UNCOUNTABLE. Namun bukanlah benda, berbeda dengan udara, air, api dan sejenisnya merupakan uncountable noun, atau benda tak dapat dihitung. Sehingga kita tidak bisa mengatakan air, udara, api berjumlah satu atau sepuluh, atau seratus. Namun kita juga tidak bisa dikatakan benda-benda tersebut sebagai satu (esa). Bahasa yang mewakili adalah benda jamak dan benda tunggal. Jika Tuhan dikatakan satu, berarti terjebak pada terminologi benda jamak. Saya kok merasa lebih sreg jika mengatakan (dalam bahasa kawi) sebagai Hyang Widhi atau Maha Tunggal atau bahasa lain yg sepadan. Karena Tuhan itu, saya kira tak dapat dihitung. Jika dikatakan Maha Esa (satu) kiranya teramat sulit memahami deret hitungan yang KUANTITATIF dan SIMPLISTIS tersebut. Kenyataannya, memahami Tuhan yang tiada duanya, jauh melebihi sulitnya menghitung udara sebagai benda tak dapat dihitung. Betapa hebat Tuhan itu. MOHON SAUDARA-SAUDARAKU seluruh pembaca yang budiman BERKENAN berbagi rasa di sini.
salam asih asah asuh















747 tanggapan kepada “TATA CARA MELIHAT TUHAN”
jaka gledhek
Februari 16th, 2012 pada 05:04
salam sejahtera..ki maaf ni mau tanya kepada Kisabdo la,, sampeyan niku agamanya apa..? islam,kristen,hindu,budha,konghuchu,,,saya mau ngangsu kaweruh di blog ini,,jadi sya,,bisa lebih jelas,,dan buat para pencari jalan tuhan yang lainya,,,salam kasih,,
KesadaranMurni
April 13th, 2012 pada 08:07
…….sampeyan niku agamanya apa ?………..saya mau ngangsu kawruh…..
saudara Jaka Gledhek,Ki Sabda itu berbicara mewakili semua Agama,karna beliau
sudah paham esensi Agama dan berkenan menjabarkan pada kita poro kadang yg
belum paham esensi ( sejatining Agomo ). Kalau saudara masih memilih dan memilah
serta belum bisa menerima keanekaragaman ajaran agama,sampai kapanpun anda
tidak akan mengerti sebenernya agama itu apa. Kalau anda mau ngangsu kawruh
anda harus welcome pada semua ajaran agama karna di blog ini utk semua agama
Untuk Ki Sabda terima kasih
gusdur
Februari 16th, 2012 pada 12:44
He…he..he… bener sekali illustrasi mas Sabda… saking dekatnya Beliau/Tuhan itu dengan kita, sehingga kita gak bisa melihatnya…. jadi yang baik melihatnya dengan mata Rohani saja yang mas.
Salam Rahayu mas Sabda
gusudr
afton utomo
Februari 16th, 2012 pada 16:11
Tuhan Maha Segalanya Ki!!!!
Jadi Jabarkan Maha Segalanya itu ki!!!
Ngglosor Madhep Wetan
Februari 17th, 2012 pada 18:27
Yth. Poro Pinisepuh & Poro Sedulur terkasih…
Ijinkan saya untuk ngomyang lagi..
Ini cuma omyangan ngawur, jangan dimasukkan dalam hati nggih hehehehe…..
Ini tulisan Mas Sabda masih terus2an cemathel dalam pikiran saya.
saya membayangkan judulnya saja sudah takjub : Tata Cara Melihat Tuhan.
Secara filosofis penjabaran & diskusi Poro Sepuh & Poro Sedulur pasti yahud punya. Sudah pasti sy yg cekak ini ndak sanggup ikutan diskusi2 filosofis. Jadi sy ngomyang yg bukan filosofis saja yaa….hehehehehe (malah tambah bingung mau ngomong apa…hehehehehe…)
Melihat Tuhan, atau bertemu dg Tuhan, secara harfiah, bisa diandaikan nonton tv. Atur frekuensi channel-nya, & didapatlah visual yg diinginkan. bedanya klo di tv, kita ndak bisa interaksi (kecuali mungkin klo ada acara interaktif yg pakai telpun2an itu yaa..), kalau ketemu Tuhan kita berinteraksi (walau interaksinya ndak selamanya verbal).
Ketemu Tuhan itu nyaman alang kepalang, meski cuma mak clap ! seperti lampu blitz & rasa nyaman itu datang. rasanya ayem, tenang, tapi maktu sy menyadari keberadaan tubuh fisik, mata sy ndak bisa melek. Beberapa saat sy sadar, terdengar sayup jam di ruang tengah berdentang satu kali. Badan sy terkunci, tapi rasanya nyaman sekali. Rasanya enggan berpisah dari suasana seperti ini. Suatu hal yg menurut sy bertentangan : badan terkunci, mata buta (meski sudah terasa melek tapi ndak bisa lihat apa2). Pandangan gaib jg terkunci, maksud hati mau kontak temen2 atau leluhur, tapi itu juga blank !
dan ternyata memang jalur frekuensi Gusti & teman2 memang berbeda…. hehehehehe maklum waktu itu sy agak kalap, takut buta permanen hehehehehe…
mata sy baru dapat melihat samar2 buram waktu selepas jam berdentang pukul 6 pagi. dari jam 1 sampai kira2 lepas jam 6 badan sy terus2an terkunci. sekitar jam 7an baru mata bisa melek normal & badan lepas total dari kuncian.
Awalnya sy memang memohon dibukakan jalur utk bertemu Gusti.
tapi ternyata memohon itu tidak hanya memohon belaka, kita jg harus usaha…
Buat banyak orang mungkin keinginan sy ini nganeh2i. Tapi buat sy pribadi ini perlu, supaya sy ndak sia2 maneges… hehehehehe…. pragmatis sekali yaa, pikiran sy yg sialan ini hehehehehe….. nyusah2in diri sendiri saja….
selain tunning frekuensi, ternyata kita juga harus tunning hati. nggak boleh ada setitik pun rasa kisruh ada dalam hati kita saat melakukan pisowanan. mau sehari2 kita hidup sebagai manusia nggak bener, tapi kalau pas pisowanan, hati kita ndak kisruh, juga bisa jumpa Gusti kok… memang bener, Gusti itu Moho Asih…
ngapunten, ini bukan mau umuk…. tapi kalau ada yg menganggap sy membual atau sy sudah sinthing, jg monggo2 saja kok hehehehehe…..
naaaahhh sekarang ada pertanyaan : itu bener Gusti ? jangan2 itu demit yg menyamar…. bisa bahaya tuhhh….
pertemuan dg Gusti, tanda aslinya cuma satu : biarpun kita ndak diwejang apa2, waktunya cuma singkat, wujud-Nya jg adalah cahaya yg kuat membutakan, tapi kita merasa nyaman, damai, ayem, tentrem, dan yg penting (menurut apa yg sy alami) sesulit apapun kita hidup, selalu ada semangat & kebahagiaan untuk menjalaninya, biarpun solusinya belum ketemu2 pisan hehehehehe…….
demit ndak bisa mengasilkan itu, jadi jangan kuatir kalau ada niat bertemu Gusti nggih hehehehehehe….. soalnya sudah cetha bedanya…. tapi ketemu Gusti-nya jangan pakai ladhing, jangan pakai pisau atau minum racun tikus atau gantung diri… itu namanya bukan ketemu Gusti, tapi nyusah2ke keluarga … hehehehhee
sy sudahi dulu ngomong ngawur saya nggih…
sampai jumpa lagi dalam ngomyangan yg lebih ngawur lagiiiii hehehehehehe…..
nuwun
Rahayu
Dewi
Februari 17th, 2012 pada 20:24
@ Ngglosor madhep wetan,
Maturnuwun mas atas sharing dan obrolannya yang gayeng, boleh tahu inspirasi ajarannya dari mana nggih, menopo kejawen maneges?… saya tertarik mendalami seluk-beluk ajaran jawa maupun kejawennya. Soalnya kejawen ini juga banyak alirannya, kalo saya ini independent aja… he he he…
Salam kasih,
Dewi
Dewi
Februari 18th, 2012 pada 14:01
@ Ngglosor Madhep Wetan,
Niki mas saya menemukan ajaran kejawen maneges di rumahnya mbah google : http://kejawenmaneges.blogspot.com/
Ajarannya bagus, bahkan bagi pengikut kejawen ini tidak memakan makanan yang bernyawa alias vegitarian, Kejawen Maneges adalah bagian dari agama penghayat kepercayaan terhadap Tuhan YME yang terdiri dari 240an agama lokal di Indonesia.
Saya sangat terkesan sekali, mohon mas Ngglosor sebagai penghayat ajaran kejawen bisa memberi pencerahan kepada saya yang masih dalam tahap baru belajar mencerna dan memahami ajaran jawa ini. Maklum mas, saya ini udah kepaten obor, ora weroh lor-wetan-kidul-kulon, hanya meraba-raba saja/ mengandalkan perasaan saja, maka dari itu saya ingin menguri-nguri budaya jowo, mau menyalakan lagi api/ obor lenteranya dalam hati saya. Maturnuwun.
Salam rahayu,
Dewi
Ngglosor Madhep Wetan
Februari 19th, 2012 pada 16:55
Yth. Ibu Dewi,
saya juga independent kok Bu. mungkin kata maneges yg sy gunakan membuat sedulur punya asumsi kalau sy adalah penghayat kejawen maneges.
Sy diajari kejawen oleh Mbah Marno (alm.), yang juga adalah independent. ajaran2 yg Beliau informasikan ke sy juga sifatnya pribadi & bisa dibagikan kepada siapa saja yg mau menghayatinya. kediaman terakhir Mbah Marno adalah gubuk kecil di antara pasar sapi & pasar kranggan, kartosuro.
terus terang sampai sekarang sy belum pernah menjumpai model aliran kejawen seperti yg sy hayati, Bu. Sebenarnya kalau ada yg mirip2, minat jg bergabung. Nggali sendiri kan abot jg Bu, hehehehe…. kalo dipacul rame2 kan lebih nyenengke, lebih semarak.
Kalau kejawen yg sy hayati itu ndak ada pantangan dalam hal kuliner Bu. Tapi secara alamiah hati akan bergerak untuk menghindari makanan2 tertentu saja, tapi tidak permanen. contohnya sy pernah pingin makan empal sapi, tapi pas di kedainya & melihat empalnya, hati sy kok jadi enggan. Padahal itu empal kesukaan sy.
model sy itu ndak ada aturan Bu (mungkin tidak disukai oleh mereka yg suka akan hukum & aturan2 verbal). subjektif ? tidak juga, karena ketika sy ingin njajal yg enak2 (hehehehehehe…… enyaaaaaakkkk !!), sy malah ditegur sampai hati sy jadi enggan melaksanakan yg enyak2 itu…. payah yaa ? nafsu liar jadi ndak tersalur hehehehe….
makanya sy kadang sowan di blog-nya Mas Sabda ini supaya dapat pengayaan Bu, supaya bisa lebih memahami poro sedulur yg beraneka warna wawasannya.
dan sy masih akan terus belajar Bu, termasuk ngangsu kawruh kepada Njenengan. Saya ini cekak banget jee, bisanya cuma ngomyang ndak keruan hehehehe…. kadang malah nyakiti hati biarpun cuma lewat kata2…. sy juga masih belajar supaya menjadi semakin tidak nyakiti hati orang.
nuwun
Rahayu
Sen Karna
Februari 19th, 2012 pada 17:48
SABDå
Desember 30th, 2010 pukul 17:17
Mas Tio Repro Yth
Kejawen bukanlah agama. Kejawen merupakan falsafah hidup dan lebih bersifat ilmu ilmiah, alias bisa dibuktikan dan diverifikasi secara ilmiah, atau diuji kebenarannya. Sedangkan yang menyangkut kebatinan, bisa dibuktikan dengan cara menghayati nilai-nilai luhur, kemudian membuktikan efeknya melalui pengalaman lahir dan pengalaman batin. Saya kira tuhan tidak pernah menunjuk-nunjuk orang utk menggali ilmu. Semua adalah pilihan manusia, apakah mau belajar dan memerdekakan diri secara lahir dan batin ataukah tidak. Bagi yang berusaha belajar dan menghayati ilmu lebih banyak lagi, tentunya akan mendapatkan ilmu dan ngelmu lebih besar dan mendalam.
Kejawen memperoleh ilmu melalui jalan spiritual, dengan menghayati, mengamati, dan merasakan efeknya. Kitab sucinya bukan berupa buku, tetapi “papan tanpa tulis”, “ayat-ayat” yg tergelar dijagad raya atau sastra jendra. Membacanya tidak sekedar dengan mata wadag dan pikiran, tetapi musti melibatkan mata hati, ketajaman dan kebeningan batin. Jadi orang TIDAK BERTUGAS UNTUK MENYEBARKAN, tetapi LEBIH PENTING dan utama adalah menghayati, mengimplementasi ke dalam perbuatan sehari-hari. Dalam konsep Jawa memang tak ada model kenabian, karena ilmu Jawa memandang keadilan tuhan bisa berlimpah kepada setiap orang, setiap suku, bangsa, dan agama. Setiap orang berhak menjadi “utusan” bagi dirinya sendiri. Menjadi orang Jawa, yakni JIWA KANG KAJAWA, atau Jawi, JIWA KANG KAJAWI. dengan kata lain, menghayati nilai luhur lebih utama ketimbang pandai menghafal teori dan referensi yang hanya “katanya”, ujare, ceunah, ceuk ceunah. Setelah menjiwai, selanjutnya dihayati.
Salam sih katresnan
———————–
@Mas NM Wetan,Jeng Dewi, semua,
Itu tadi saya kutipkan tulisan Mas Sabda beberapa tahun yl. “Setiap orang berhak menjadi ‘utusan’ bagi dirinya sendiri”, tulis Mas Sabda, dus menjadi penganut kejawen ….independen, seperti Jeng Dewi dan Mas NM Wetan, dan mungkin banyak lagi mbak2 dan mas2 di luar sana … Saya kutipkan yang di atas karena masih saja ada ‘tamu’ yang tidak tahu blog ini blog kejawen.
—————————-
‘….pertemuan dg Gusti, tanda aslinya cuma satu : biarpun kita ndak diwejang apa2, waktunya cuma singkat, wujud-Nya jg adalah cahaya yg kuat membutakan, tapi kita merasa nyaman, damai, ayem, tentrem, dan yg penting (menurut apa yg sy alami) sesulit apapun kita hidup, selalu ada semangat & kebahagiaan untuk menjalaninya, biarpun solusinya belum ketemu2 pisan hehehehehe….(NM Wetan)
————————–
@ Mas NM Wetan,
Nyuwun sewu,pengalaman njenengan bertemu Gusti nampaknya bukan tidak ada … duanya … Orang2 Buddha, terutama bikku2, pendeta2 Zen dan orang2 ‘atheis’ yang sudah lama bermeditasi, yang sudah ahli dalam bermeditasi, juga sering mengalami hal yang njenengan alami . Cuma mereka tidak menyebutnya sebagai (dari) Gusti. Ini mungkin karena Gusti Allah … tidak sering disebut-sebut dalam ajaran mereka. ( Agama Buddha lebih banyak membicarakan Sang Buddha daripada Gusti. Orang ke nirwana atas usahanya sendiri, bukan karena pertolongan Buddha, apalagi Gusti.) Meditasi nampaknya cukup laris di Barat karena disamping manfaat nya untuk kesehatan, orang juga mendapat pengalaman
spiritual tanpa embel2 … agama, atau Gusti Allah.
Omyangan2 njenengan yang lain saya tunggu. Rahayu.
Dewi
Februari 19th, 2012 pada 20:20
@ Sen Karna,
Maturnuwun, konon kita ini adalah Tuan/ Nyonya bagi diri kita sendiri, yang bisa memimpin, mengatur, membimbing, melayani diri kita sejatinya adalah diri kita sendiri, jadi kita harus pandai2 mengemong diri kita sebijaksana mungkin, yang bisa menjadi guru sejati kita adalah pengalamn dan kehidupan diri kita sendiri, orang lain hanya memberi pencerahan dan ispirasi saja, namun tidak memaksakan harus sama plek.
(hmmm…, boso indonesane ‘plek’ niku nopo nggih paklek?… he he he…).
@ Nglossor MW,
Maturnuwun, menawi njenengan nggadah fb monggo sesarengan kaliyan kulo, yen kerso saget madosi nami kulo lewat fbnipun ki sabda.
Nggih saya juga setuju, saya menunggu omyangan2 mas Ngglosor selanjutnya jeeee…..
Salam gayeng,
Dewi
Ngglosor Madhep Wetan
Februari 24th, 2012 pada 14:09
@ Yth. Denmas Sen Karna,
wah saya ndak merasa jadi utusan jee…. hla wong klo utusan itu kan dikongkon, disuruh… saya ini begini karena mau saya saja kok. cuma mau mbuktikan saja hehehehe…..
wah sepertinya saya mesti banyak meguru sama Njenengan Denmas, soalnya Njenengan banyak tahu soal bermeditasi-ria. Hla saya ini cuma cekak je. Kalau yg saya omyangkan itu disebut ke-bisa-an, hya ke-bisa-an saya cuma segitu itu hehehehe….
jadi ngapunten atas keterbatasan saya njih.
@Yth. Bu Dewi,
Ibu Dewi gaul banget yak. mainannya fb. nggak kuku saya hehehehe…. sy sudah coba mohon perkenan Mas Sabda untuk nge-link fb, tapi mungkin Mas Sabda suwibuk banget akhir2 ini Bu. Monggo dikedapi sabarnya njih hehehehe…..
nuwun
Rahayu
Dewi
Februari 24th, 2012 pada 16:02
@ Ngglosor Madhep Wetan,
Maturnuwun kangmas Ngglosor atas respon positifnya, Nggih sakmeniko profil fb ki sabda niku publik figure, dados, njenengan angsal langsung mlebet kiyambak ten ‘friends list’ ki sabda, lajeng saget search n klik nami kulo.
Sambil nunggu confirm ki sabda, bisa klik saya dulu… gampang kan?… waduh saya udah nggak sabar nih…xixixixixi…
Kagem kangmas Widodo, Yhredaya, Sen karna, Joko Gledhek, Wisnu Tiyang Jawi, Indonesian Angel lan Sedoyo, menawi kerso mampir ten fb kulo, monggo kulo aturi pinarak nggih…
Salam gayeng,
Dewi
Sen Karna
Februari 24th, 2012 pada 19:32
@ Mas Ngglosor Madhep Wetan,
Ada banyak jalan ke Roma. Gusti itu kan super pinter dan arif, Beliau punya banyak cara untuk mengirim ‘utusan’ Nya. Ada yang tahu, ada yang tidak tahu, ada yang mau mengaku, ada yang tidak. Mungkin menjadi (utusan untuk) ‘diri sendiri’- independen – adalah salah satu cara yang dipakai Gusti. Jadi, orang tahu, misalnya, kalau ada seseorang yang merugikan orang lain atas nama Gusti. Lha, wong Gusti tidak pernah menyuruh orang untuk merugikan orang lain.Apalagi nggebuki orang …
Meguru sama saya ini seperti ‘ngenteni thukule jamur ing mangsa ketiga’ )-: Saya ini gak ahli apa2, apalagi meditasi.Saya cuma tahu cerita2/ dongeng2 pengantar tidur saja. Dongeng2 kancil mencuri mentimun, Om Buddha, Kang Yesus, Pakde Siti Jenar, Lik Ronggowarsito, Pakde Rumi,dll.
Mungkin sudah karepe Gusti saya ini cuma tahu dongeng2 pengantar tidur saja. Mungkin sudah karepe Gusti saya juga selalu menyimak tulisan2 panjenengan. Terima kasih atas kesediaan njenengan untuk berbagi di sini.
Rahayu
mzarifin4251
Maret 28th, 2012 pada 10:29
melihat Tuhan kelak di sorga saja.
sekarang belum mampu,belum diidzinkan.
yg mungkin kita lihat,jin yg meng aku2,menyamar.
jangan mau ditipu jin,jangan nyembah jin.
rere
Maret 28th, 2012 pada 23:20
lalu bagai mana cara ya menyembah tak tahu yang disembah…???
pasti jin di depan nya……??….
kalau mengetahu Tuhan pasti akan fokus terhadap Nya.
afton utomo
Maret 29th, 2012 pada 09:56
Apa iya tuhan hanya ada di sorga ko yakin ketemu tuhannya disorga??
rere
Maret 29th, 2012 pada 19:59
ha ha ha ,…bener juga Mas Afton…..
emang nya juga ape yakin masuk sorgaaaa…? he he
Tuhan aja gak tahu,… apalagi sorga…., kayak apa ya….?
Soerodawoek
April 12th, 2012 pada 15:57
Slm karahayon
nderek sering ada yg sedang
bersaksi dlm solatnya
AKU BERSAKSI TIADA TUHAN SELAIN ALLAH DAN AKU BERSAKSI MUHAMAD UTUSAN ALLAH para pinisepuh engkang dahat kinormatan
punapa estu kalau yg sedang
bersaksi ini benar sudah melihat ato menyaksikan yg di yakininya dn apakah benar si penyaksi menyaksi kan bhw muhamad yg di utus nya di mana? dn bagemana caranya? Kalau toh benar telah bersaksi berarti sudah bisa mengingat allah dn muhamad utusan allah yg di saksikanya
kalau ada pinisepuh yg udah
bisa sy mohon untuk kasih tau saya terima kasih
Rantam
April 12th, 2012 pada 20:24
Mas/mbak,
Agama itu tidak selalu seiring sejalan dengan kenyataan, apalagi dengan logika. Agama itu soal keyakinan. YAKIN adalah percaya, meskipun tanpa bukti. Kalau saya yakin 3 x 3 itu bisa = 8, 10, atau berapa saja, ya itu keyakinan saya. Kalau ada yang bilang jawaban yg benar adalah 9, ya biar saja. Pokoknya saya yakin 3 x 3 bisa berapa saja. Kira2 begitu. Oh ya, orang2 yang sering berpikir itu tidak begitu gampang …. diapusi/dibohongi …hehehehe …
Soerodawoek
April 12th, 2012 pada 23:27
salam karahoyon
nyuwun sewu Allah maha wujud qidam baqok sudah tentu pasti dan pasti itu tidak ngambang atau meragukan.
ora sak penere dewe tapi pener lan bener.
tepat sasaran bagaimana mungkin kalo jawabanNya ragu alias ngawaur gak apa2
harus percaya dan yakin.
yg menerima jawaban jadi bingung? lha wong ngawur kok dibiarkan.
pokoke yakin bae… kalo jalannya lurus…
kalo jalannya di depan patah dan jurang apa jadinya?
kan Maha Pasti juga.
nyuwun panga punten pini sepuh belum bisa menerima
mari lajut seringnya
olads
April 13th, 2012 pada 13:32
wassalamualaik,… Mas Soerodawoek
Betul Mas dawoek dulu 1 tahun yang lalu saya pernahtanya padaguru ngaji saya ttg hal itu. Beliau jawab secara hukum fiqh, bahw bersaksi thdpTuhan dengan memahami bukti firman Nya di Kitab Suci, sedangkan penyaksian thdp Nabi & Rasul adalah melalaui Kitab suci pula dan hadits Rasul, pendapat saya itu hanyalah bukti secara logik saja.
Tentu selanjutnya menurut ilmu tasauf adalah melihat dan merasakan perbuatan/af’al Tuhan dialam semesta dan diri kita masing-masing sebagai mana Kitab Suci adalah hudan/petunjuk bagi yang ber taqwa/tunduk patuh, maka hamba yang bertaqwa tenu akan mencari dan membuktikan keberadan Tuhan sesuai apa yang ditunjukan oleh kitab suci melalui berbagai amal perbuatan dan ritual-ritual nya.
Menurut saya pribadi Tuhan dengan segala sifat dan perbuatan Nya serta Asma Nya telah tertera sebagai sunatullah, hukum alam kehidupan, atau rumus qodrat alam ( istilah Mas Sabda), yang telah nyata terbukti dan nyata terasa pada diri masing-masing( jagad mikro ) dan alam semesta( jagad makro). Bahwa kehidupan ii disifati oleh sifat-sifat keagungan Tuhan, pada diri manusia di sebut Fitrah Allah, dan stiap manusia yang lahir dalam kondisi fitrah/suci baik dan benar.
melihat Tuhan adalah merasakan dengan rahsa Sejati dalam Qolbu perbuatan sifat-sifat ilahiyah pada diri sendiri dalam asma Nya yang Agung, yakni melihat dan merasakan Ke Maha Besaran Tuhan( Al-Akbar, Al-Adzim, Jalalullah, Jamalullah, dll), sebagai mana ajaran Syekh Siti Jenar, yaitu memahami sifat 20 Tuhan( wujud, qidam, baqo, mukhlafatul lil hawaditsi, dst….) yang wajib wajibu wujud dalam kehidupan, dimana manusia adalah sebagai sifat kemustahilan Nya.
Menurut pendapat keyakinan saya sih demikian, tapi bukan pembenaran diri untk umum, sebatas keyakinan diri dalam konsep ketuhanan yang terasa pada setiap detak jantung dan nafas kehidupan.
Semoga kurang puas, penjelasan ini, karena Tuhan memang terlalu luas untuk dijelaskan oleh otak kesadaran manusia yang sangat sempit, kecuali hati manusia sebagai baytullah Nya yang mampu menembus Rahsa Sejati(rahasia) sejatiing rahsa.
Salam karaharjan.
sweetestamy
April 13th, 2012 pada 14:49
salam mas Soerodawoek,
bagi saya , kalimat, AKU BERSAKSI TIADA TUHAN SELAIN ALLAH DAN AKU BERSAKSI MUHAMAD UTUSAN ALLAH dalam sholat, adalah penyaksian para malaikat/makrokosmos dalam badan kasar terhadap Allah/Ingsun Sejati dan Muhammad/Rasa Sejati..
Dua-duanya saling berhadapan, Allah diseblah kiri, Muhammad di sebelah kanan.
Muhammad/Krishna bersujud kepada Ingsun Sejati dan terjadi dialog :
Muhammad: Duh Gusti, bagaimana hamba bisa menyatu dengan Mu? sedangkan diriku lemah…, miskin…, pelupa…,penuh salah.. dan dosa??
Gusti Allah pun bersabda:
Kamu lemah, Aku kuatkan….Sesungguhnya Aku Maha Kuat
Kamu miskin, Aku cukupkan….Sesungguhnya Aku Maha Kaya…
Kamu kesepian, Aku jodohkan….Sesungguhnya Aku Maha Penyayang..
Kamu berdosa, Aku ampuni….Sesungguhnya Aku Maha Pengampun..
Kamu lupa, Aku ingatkan…Sesungguhnya Aku Maha Penyantun..
Kamu salah, Aku maafkan…Sesungguhnya Aku Maha Pemaaf..
Muhammad: Duh Gusti, sesungguhnya aku malu kepada Mu… atas dosa dan kesalahan ku yang terdahulu..
Gusti Allah: Dosa dan kesalahan mu yang terdahulu dan akan datang sudah Ku ampuni dan sudah Ku-maafkan… bersyukurlah.. dan bergembiralah.. !
Muhammad: Segala Puja dan Puji bagu Gusti Allah.. Alhamdulillah..
Rahayu
Tembayat
April 13th, 2012 pada 16:26
@sweetestamy
sugeng sing kang Raja….,bagaimana kabarnya depok ?
sudah lama berganti baju ya ?maklum musin hujan !
kalau menyaksikan/sebuah penyaksian kita,pada Tuhan itu ukurannya apa ?saya jadi ingat ketka saya ditanya ,apa yang kau ketahui tentang Muhammad ?jawaban say waktu itu,saya mengenal Muhammad tidak secara agama dan tarikat,tapi saya mengenal Muhammad secara hakekat dan makrifat,lalu pemahaman yang sebenarnya bagaimana kang sweetetamy?
sy yg muda ini mohon nasehat !
haturnuwun.
js
April 14th, 2012 pada 02:17
Salam Mas Tembayat……sepertinya Njenengan menyapa teman lama…apa benar beliau ini Mas RD……..Salam Mas RD….semoga Njenengan selalu sehat…banyak rejeki dan berbahagia……
Dewi
April 13th, 2012 pada 19:50
@ Soerodawoek, Rantam, Sweetestamy, Olads, Tembayat,
Sugeng pepanggihan malih kagem poro pinisepuh lan maturnuwun atas pencerahannya.
Salam rahayu,
Dewi
olads
April 14th, 2012 pada 21:36
wassalam Jeng Dewi,….
Dan Maturnuwun utk semua temen atas tambahan wawasan nya, sangat mencerahkan memperkaya khasanah keyakinan.
salam karaharjan
Soerodawoek
April 14th, 2012 pada 17:28
Matur kesuwun sanget semua pencerahanya dn lanjutan seringnya
pada dasarnya kt hanya di wajibkn utk mengenalnya saja toh setelah mengenal di
wajibkan utk mengingatnya
terus menerus seperti kt mengingat kekasih yg kt cimtai kalau bukan dia bukan
kekasih ku mengenal dulu mengingat dan mencintainya
utuk rahasianya tdk perlu hanya dia yg tau
seperti perintah solat yg pertama di terima kanjeng nabi muhamad yaitu solat terus menerus tk henti2nya
solat di sini solat mengingat
tuhan
nyuwun pangapunten manga
seringipun lanjut
Bala(ne)dewa
April 14th, 2012 pada 23:16
….seperti perintah solat yg pertama di terima kanjeng nabi muhamad yaitu solat terus menerus tk henti2nya
solat di sini solat mengingat tuhan …
———————-
Kok Tuhan ndak pernah menyuruh Sang …. Buddha solat ya ? (-: Atau menyuruh Yesus solat ? (-: Tuhan dalam kitab suci Samawi juga tidak pernah menyebut-nyebut nama Sang Buddha . Apakah Tuhan/Allah itu , pada waktu itu, hanya … ada di Timteng ?? Itu satu.
Yang ke dua, kalau di hati manusia sudah ada cinta/kasih, apa Tuhan/Allah masih diperlukan ? Buddha (Gautama) bisa mengajarkan cinta kasih minus Tuhan …
Dan jangan bilang Tuhan nanti … marah kalau nama Nya tidak disebut-sebut, atau diteriakkan lho.Yang biasa marah itu kan sementara umat Nya …
Kalau pun nama Tuhan perlu disebut, tidak harus di mulut, di hati saja kan juga bisa ?
Oh ya, pernahkah Tuhan tersenyum ?
Kesadaran Murni
April 23rd, 2012 pada 12:46
@ Bala(ne)dewa
@ all
Untuk mencari/mengetaui/bertemu Tuhan sebenernya sangan mudah dan simpel…
” Tuhan itu Kasih,Kasih itu Tuhan ” Tuhan/Kasih ada dalam diri ( hati / Qolbu) tiap manusia. Tuhan tidak kemana-mana dan bukan dimana-mana.
Monggo sama2 kita rasakan ke ” beradaan ” Nya. dengan cara kita masing2……….
Bala(ne)dewa
April 23rd, 2012 pada 15:29
” Tuhan itu Kasih,Kasih itu Tuhan ” Tuhan/Kasih ada dalam diri ( hati / Qolbu) tiap manusia. Tuhan tidak kemana-mana dan bukan dimana-mana.
Monggo sama2 kita rasakan ke ” beradaan ” Nya. dengan cara kita masing2……….
===================
@Kesadaran Murni,
Tepat, Tuhan = Kasih, Kasih = Tuhan. Nek yang ini orang Buddha tidak ada masalah alias setuju. Tuhan bukan ada di atas/dii bawah sana, harus disembah beberapa kali se hari, disenangkan hati Nya,dll. Kalau ada orang kesusahan – baik dia beragama apapun, atau tidak beragama sama sekali – butuh pertolongan, ya dibantu sebisa kita, itulah …Tuhan, bukan malah digebuki… kasihkasihkasihkasihkasihkasihkaishkasihkasihkasihkasih…………
Soerodawoek
April 15th, 2012 pada 08:16
Mbok ya ooo para pinisepuh yg udah tau…. kamu mesti ketemu ama ini lho caranya
begini maaf yg di seringkan
ini kan sekedar teori smua
kaya cerita bima gitulho yg bisa ketemu ama dewanya
sang dewaruci
kan mudah untk di ingat sokor bage bisa ngobrol
kata dewaruci ama bima ini lho tempatmu nanti kembali
sekarang kamu bima boleh icip2dulu walau hanya sekali
seumur hidupmu
tolong saya para pinisepuh
engkang dahat kinormatan
caranya bagemana hrs laku apa?
saya gk berharap surga dn tk takut neraka
sy berusaha untk menjaga pintu neraka itu supaya yg mau sering ama saya gk masuk neraka he he he
manga di lanjut seringnya
olads
April 15th, 2012 pada 19:15
Mas dawoek ….
Spertinya yang tepat menjelaskan ttg konsep laku adalah Mas Sabda..he…he
Cerita Bima Dewa Ruci memang sangat mencerahkan fikiran untuk memahami cara menembus jati diri dengan memerangi unsur tiga nafsu ( amarah luwamah mulhimah) menuju Muthma’inah, iniah Jihad akbar/besar yang sesungguh nya. Yaitu memerangi nafsu diri sendiri, tanpa perlu memrangi orang lain dengan Jihad Bom surga bohongan he..he
Laku memerangi nafsu banyak sekali methodenya, bisa dengan puasa/shaum mutih, ngrowot dalam jumlah tertentu serta dzikir wirid dll. Atau dikalangan kejawen sudah tak aneh laku spt ini, dari sejak kecil sudah di dongengi dan di ajarakan untuk mengenal sedulur papat limo pancer, hingga bertemu dengan diri sendiri, syukur bisa ngobrol, terkadang melihat untuk bertatap muka sulit nya bukan main. he he.
konsep tsb biasa disebut mengenal diri sendiri, sebelum mengenal Tuhan ( man arofa nafsahu faqod arofa Robbahu). Namun tentu konsep-konse spt itu poro khadang dan panisepuh disini terutama para senior sudah banyak yang pada faham ttg hal itu.
semoga poro panisepuh memang diharapkan sekali untuk mambagi pengalaman yang sangat berharga, agar kami semua dapat belajar lagi.
salam karaharjan
Dewi
April 21st, 2012 pada 21:31
@ Olads,
Maturnuwun pak atas point of viewnya tentang konsep lelaku ini, kulo tenggo tulisan2 njenengan selanjutnya, lan ugi sedanten saget ngelanjutke diskusinipun.
@ Eyang Sweetestamy Sapujagad,
Rahayu.. rahayu.. rahayu.., pripun khabar pawartosanipun?…
Salam manis,
Dewi
Soerodawoek
April 16th, 2012 pada 00:27
Kata hadis mengingat allah
itu seperti kamu mengingat
kedua orang tuamu
semudah itukah? Coba para pini sepuh kita ingat adik kt
terbayang kt ingat kakak terbayang kt ingat kekasih kt gk bisa ilang
permahkah kt ingat wajah kt sendiri saya rasa jarang
orang melakukan dn ingat kah wajah itu padahal selalu
ada di kt jwb …Tidak….
sepertinya sama kata allah bhw aku lebih dekat dari urat nadimu…. dn wajah itu selalu nempel pd kt mudah kah kt ingat? tiap hari dipakai kok lupa bagaimana
mau mengenal diri wajah kt sendiri aja lupa padahal sangat kt kenal
mangga lanjut mudah2an gk salah tulis
Soerodawoek
April 23rd, 2012 pada 01:30
Nyuwun pangapunten pr pini
sepuh menawi keladuk angen
kula ngucap /matur.
kok sepi ? Radi weng kula
adam =kalifatulah – akal fikir
sak lebeting sirah yg menge
nal wadak sak isine
ibrahim=imamullah(imam besar) – imam yg selalu membersihkan lubuk hati kt musa = kalamullah – yang membawa kabar kebenaran
(ferman allah) di lubuk hati kt
isa/yesus =rohullulloh – roh yg dihembuskan allah pd jasad dan hiduplah kt
mohamad = nurullah – nur yg
di berikan sehinga kt bisa di lihat ganteng cantik laki2 wanita dn bisa membedakan
ini manusia ini hewan
punapa leres sak kabehing
nabi pepak wonten sak lebe
ting raga kt raga pr nabi boleh rusak mati sifat dn tabiatnya selalu ada pd kt
mohon pendapat dn seringnya kalau toh salah tunjuki sy jln yg lurus dn jgn
anggab negatif lupakan sj
ini sama urutanya turun kitab2 1 taurat
2 zabur
3 injil
4 alqoran
dengan bintang pembawanya
musa daud isa mohamad
slm karahayon nuwun.
Kesadaran Murni
April 23rd, 2012 pada 14:08
@ Soerodawoek
Leres ki sanak,sedoyo meniko wau namung sanepo ( kiasan/analogi ),injih mekaten puniko cara para leluhur ( baca : nenek moyang ) rumiyin anggen paring reh piwulang
dumateng putra wayah wonteng ing saendenging donya.
Soerodawoek
April 24th, 2012 pada 01:16
Matur ke suwuntanggapanya
kalau akal fikir adlah adam (laki2) ana sak njrone utek bgmn allah menciptakan hawa sbg istri dr dirinya sendiri untuk teman ngobrol.
bgmn kalo kt pilih hati tempat hawa(perempuan)
jadi di ciptakan jasad laki2 dn perempuan sama yg membedakan fungsi jasad masing2
adam – bersifat bijaksana
selalu memberi.Laki
Hawa – bersifat ingin dilindu
ngi dn selalu memita
perempuan
kt praktekan pd diri kt ma
sing2 dimn letak keinginan di
mn letak kebijaksanaan bisa
di rasa..?sah jadi suami istri di jasad masing2(otak ln ati)
sbg suami istri berhubungan lahir qobil dn qain
ank adam dn hawa baik dn buruk ato soleh dn jahat
perbuatan yg keluar dri kt perempuan maupun laki2
Kt hening sejenak tutp mata
ngomong antara otak dn hati
hati punya rasa keinginan
otak bijak gk respon gk terlaksalah perbuatan kt kpn adam dan hawa di cipta
saat kt hidup sekrang ini slm karahayon nuwun.
olads
April 25th, 2012 pada 04:30
Maturnuwun sanget poro kadhang lan Panisepuh,… bahasan nya sangat menyemangati menambah wawasan,…
Ada cerita lain bahwa “Hawa” artinya ” Yang Kurindukan”, identik dengan hasrat dan keinginan. Hawa tercipta dari bagian diri Adam. Adam artinya “tidak ada” kebalikan nya dari kata “wujud/ada”, sedangkan yang wujud hanya Tuhan Jadi memang jelas bahwa Adam gambaran Tuhan, sebagai bayangan/wayang.
Bila hawa tercipta dari diri Adam, berarti Hawa manifestasi nafsu Adam, disini amat jelas bahwa manusia sebagai “ketiadaan” sesungguh nya hanya mengolah nafsu dalam hidupnya, berhadapan/melawan dan berakumulasi dengan nafsu nya sendiri, he..he.. Mamenej nafsu menuju jiwa yang tenang, laras ayem tentrem(muth’ma’inah), yakni jiwa(nafs) yg dikehendaki Tuhan.
Jati diri manusia sesungguh nya terhalangi oleh nafsu yang bersarang pada jasad yang serupa dg nafsu kebinatangan dan tumbuhan, yang didorong oleh mineral dan kalori tanah bumi dan terjadi pembakaran, yang selanjutnya menjadi syahwat megalir pada darah, merasuk keseluruh organ-organ tubuh, ke hati fikiran dan reproduksi (cakra sex). Sedangkan sumber utama energy pendorong terdapat di area “tandas” (cakra dasar) titik antara dubur dan qubul. Dalam penjelasan hadist area ini disebut rumah dan makanan syetan & jin.
Dalam tradisi agama bumi( hindu, budha)pembersihan area tandas ini melalui meditasi cakra kundalini, dari cakra dasar s/d ckr mahkota. Energy inti cakra teraktifasi dan termurnikan sehingga kundalini sbg power ruh jasmani termurnikan pula, selanjutnya jiwa pun tersucikan, menjadi Dewa, Avatar, Tao. dll
Dalam metode agama langit( islam) hal itu melalui konsep Thoharoh, dengan istinja dubur dan qubul secara benar, hingga hawa-hawa najis terbersihkan. hawa-hawa najis ini setiap saat selalu terbentuk karena aktifitas hidup dan pola makan.
Konsep Thoharoh pada dasar nya membersihkan area tandas secara fisik sehingga hawa najis terblokade menuju hati dan fikiran, dan hati dan fikiran yang nifaq( rasa munafiq) musnah, jiwapun tercerahkan, inting, firasat, intuisi menajam, lawang rahsa sejati insyaallah terbuka, karena Ruh jasmani tersucikan dan terhubung dengan inti Ruh sbg power ilahi.
Selanjutnya pensucian secara hukmi(hukum Tuhan) melalui abdas/wudhu, dan mandi suci atau tayamum yang semua itu dilakukan secara benar, bukan dengan cara umum nya. Pensucian secara hukmi menurut hadits merupakan kunci pengabdian, dan silahul mukminin( senjata dan benteng perlindungan sebagai shield Ilahi). Selanjut nya Ruh pun tersucikan mampu terhubung dengan Ruh al-Quds, mendapatkan bimbingan Guru Sejati/Mursyid(Rasul), yang bersumber dari Nurun ala Nurin( cahaya di atas Cahaya).
Alangkah bijaksana bila ke dua konsep ini dapat disatukan dan dilaksanakan, baik meditasi cakra kundalini dan Thoharoh pembersihan secara fisik & hukmi. Menyatukan konsep pensucian pembersihan dan pemurnian melalui agama bumi/Kebatara-an dan agama langit/Kenabian, merupakan kelengkapan keutuhan dalam agama yang satu dan Tuhan yang satu. Karena sesungguh nya Agama dan Tuhan hanya satu yang terkonsep dalam Rahsa Sejati, mebimbing fikiran menuju kebijakan ilahi(kesmpurnaan aqal/ kalam ilahi).
Perpaduan konsep tsb merupakan Kesatuan Rijalullah(kedahsyatan Tuhan) dan Rijalul ‘alam (kedahsyatan alam) yang terwaris kepada Anwar( menurunkan agama para dewa/batara) & Anwas ( menurunkan agama para Nabi), masing-masing mereka putra dari Sanghyang Syita(Nabi Syits) terlahir tanpa Ibu Hawa.
Agama dan Tuhan menjadi beragam dalam kerancuan faham, serta dalam istilah dan nama karena tradisi budaya serta pola fikir yang beragam pula. Maka fanatisme pada suatu aliran kelompok dan golongan malah merupakan pembatalan dalam beragama itu sendiri, karena itu semua produk fikiran dan kecenderungan yang beragam telah melahirkan dogma-dogma yang memenjarakan dan menjajah kemerdekaan jiwa menuju Tuhan.
Namun ketika Rahsa Sejati terbuka atas idzin Tuhan, maka yang tampak hanyalah jiwa yang satu, yang bersumber dari sulbi Ketunggalan Adam dalam Ketunggalan dan Ke-Esaan yang tak dapat disebut dengan huruf kata dan bahasa, namun hati kita setuju, damai, laras, ayem, tetrem, dengan apapun dan siapapun makhluq Tuhan. Karena jiwa disisi Tuhan nyatanya sama saja baik laki dan wanita, sebab jenis kelamin hanya menentukan tugas dan tanggung jawab dalam pengadian di dunia. Mereka semua bersumber dari Ketunggalan Adam , Semua kita berasal dari Pencipta yang satu, agama yang satu, Adam Tunggal, dan nyatanya “hawa pun berasal dari bagian Adam yang tunggal”.
Semua nya menuju jalan lurus ( sihrat al-mustaqim), sebagai mana perjalanan spiritual menemukan Jiwa(sejatinya diri) melalui pemurnian Ruh Jasmani yang termurnikan dari mulai area tandas, lurus…. ( tujuh cakra/jalan tujuh langit/lapisan) menuju cakra Mahkota/cakra ilahi, menyatu dengan jagad makro sebagai pribadi yang tinggi.
Apakah dengan itu akan bertemu dan melihat Tuhan….?
Hanya hati yang mampu menilai, bila memang telah mampu menembus wilayah Rahasia(Rahsa), yang luas terbentang tak berbatas, dimana sebelum itu terbentengi oleh shiled angan-angan dan ketegangan nafsu iblis. Memerangi shiled Iblis diwilayah ini adalah peperangan (jihad) yang sangat akbar dan dahsyat, membutuhkan stamina spiritual tinggi atas petolongan/taufiq Ilahi. Sebagai mana penggambaran Bima & Dewa Ruci(Jiwa Suci), dilautan samudra kehidupan (bahrul hayyat).
Melihat dan bertememu Tuhan oleh tuhan pula, manusia hanyalah bayangan Nya yang telah disifati oleh sifat-sifat keagungan Nya, kebenaran Nya, dan kesucian Nya dalam fitrah ilahi, sebagai dasar pondasi untuk dapat menerima Ajaran Kebenaran(agama) Tuhan, sebagai ageman jiwa, yaitu taqwa, tunduk patuh kepada hukum dan ketetapan Nya, dalam Rumus Qodrat-iradat alam.
Sejauh mana Tuhan itu tampak oleh kita, sejauh pengetahuan dan usaha kita dalam mencapai Nya. Apakah kita melihat perbuatan Nya(af’al) , Nama Nya(asma), sifat Nya, …..?, semua itu telah ada dalam diri kita, sebab “Dia” adalah wujud(ada) yang tak dapat di umpamakan oleh otak fikiran dengan sesuatu apapun (dzat laysa kamitslihi), lebih hampir dekat dari urat leher manusia( wa nahnu akrobu min habil warid), bersama-sama dengan kita dimana saja berada( waHuwa kumtum ayna ma’akum). Sebagai mana Tuhan jelaskan bahwa “Aku sebagai mana prasangka hamba ku”.
Nuwun sewu Panisepuh,…ini hanya dongeng pendapat, lho….he…he
untuk menyemarakan silaturahim….
Salam Karaharjaan
Soerodawoek
April 25th, 2012 pada 14:26
@ olads
maturkesuwun sanget sernya sangat setuju skl
tdklah sia2 kalo tekun selalu berusaha sekuat2nyaternya ta allah membukakan smua rahasianya dn tdk di tutup2i terkecuali “AKU” hidup itu sendiri kt hanya diwajibkan untuk mengenalnya saja titik
uraian ki sanak sangat sela ras dn pas mudah2an masih
ada lg saya masih mengha rap postinganya
saya rasa gk ada yg bisa me
nguraikan ttang hidup itu sendiri kecuali hanya menge
nalnya
Mangga di lanjut
slm karahayon.
Olads
April 26th, 2012 pada 09:20
Mas dawoek Yth…..
Sama-sama Mas….., tulisan jenengan sangat meng inspirasi secara global nya (global inspiration)…he..he, banyak mengingatkan asal muasal kita semua dan fokus tujuan hidup. Mudah-mudahan masing-masing kita dapat menemukan arti dan pemahaman atas pengalaman hidup masing-masing, tanpa harus mengesampingkan dan menyalahkan pihak-pihak lain yang berbeda dalam pendapat, karena kita semua sama-sama hamba Tuhan yang diciptakan oleh Sang Pencipta. Insyaallah sharing nya bisa terbuka atas berbagai inspirasi poro kadhang lan panisepuh, untuk lebih mengingatkan dan kewaspadaan dalam menghadapi kehidupan ini, yang semakin hari kelihatanya semakin lebih menunut adanya perhatian kita sebagai jagad alit(alam mikro). Nuwun
Soerodawoek
April 27th, 2012 pada 02:22
@ olads
sama2 ki memang kalau kt
bicara di tingkatan yg satu
ini agama apapun kt horma
ti tdk membeda2kan makin indah makin lapar haus dahaga…….
fokus pd tujuan tdk setres
malah makin fres krn tdk buang2 energi yg sia2 tambah muluk ndedel neng
awang uwung itu yg kt rasa kan sokor bage ada pr kadang yg mau nambahi luwih becik
kt tdk perlu berdebat besar2
an obor tp bisa kt rasa dn ke
beradaanya ada di dalam sini
krn melihat allah tuhanmu di luar dirimu sesat adanya.
tdk akan ketemu smp jambul wanen
AKU tdk ada di gunung tdk ada di ngarae tdk ada di goa
dan AKU tdk mau masuk dlm batu tpi AKU maumasuk dlm BAITULLAH adalah jasad ini . krn DIA sang maha hidup
maka hiduplah diri ini.
sewaktu kaoncatan DiA habis dhaaaaa…he he he
mangga pun lanjud
slm karahayon nuwun
Soerodawoek
Mei 6th, 2012 pada 06:56
@ olads, kesadaran, jeng dewi, sweetestamy; bala; ratam.
Slam karahayon
nyuwun sanggahan para kadang sedaya yg udah sy tulis di blok ki sabda ini
nyuwun pangapunten ki sabda menawi lancang anggen kula matur
sy merasa pas di blk ini ada
teman dialok jd gk sepi
dn banyak belajar dr pr pini sepuh sedaya engkang pinilih
dn linuwih
terimakasih yg tlh mau menanggapi uraian dan komentar sy
mangga lanjut
Dewi
Mei 7th, 2012 pada 14:54
@ Soerodawoek,
Sugeng sore, maturnuwun pak, saya selalu membaca komment njenengan, dan memang para pinisepuh kadang melanjutkan topik dan diskusinya di ruang2 lainya juga, cobi njenengan bisa check/ lihat di posting komment2 terakhir yang ada di bawah halaman ini- di atas Atur Kauningan gambar/ gravatar bunga Ki Sabda, mereka semua masih aktive hanya ada di ruang2/ thread2 yang lainya, monggo yen kerso njenengan saget tumut diskusi ten ruang2 lainya juga nggih, maturnuwun.
Salam manis,
Dewi
1 Trackbacks / Pingbacks
TATA CARA MELIHAT TUHAN « Lpujangga's Blog Juli 16th, 2009 pada 14:47
[...] salam asih asah asuh Sumber : http://sabdalangit.wordpress.com/2009/07/05/tata-cara-melihat-tuhan/ [...]